Tetangga yang Tidak Biasa

Tetangga kami, Annalie dan Craig, pindah dua hari yang lalu. Tepatnya hari Selasa jam 6 pagi. Karena saat ini sedang musim gugur menjelang musim dingin, maka jam 6 pagi sama dengan sekitar 4.30 pagi waktu Indonesia bagian Jember, saat adzan Shubuh baru saja berkumandang.

Saya sedih mereka pindah. Beberapa hari sebelum kepindahan mereka saja saya sudah merasa kehilangan, sampai ingin menangis rasanya. Lebay memang. Ihiks.  Tapi membayangkan rumah di sebelah akan kosong dan kami tidak bisa melihat mereka disana, rasanya menyakitkan. Agh…Paramitha Rusady sekali.

But thank God, He also create time to heal all wound. For that, in almost situation, is true.

Buktinya hari ini saya merasa biasa aja ngeliat rumah sebelah kosong. Hihi…labil ya. Dua hari yang lalu masih terbayang-bayang mereka berdua duduk di beranda belakangnya setiap pagi dan menyapa saya yang sedang mengatur selang air, pagi ini saya terlalu ribet mengatur selang air yang baru dipasang suami sampai tidak sempat memperhatikan beranda itu lagi. Iya, beruntung juga saat hari kepindahan mereka kami sedang bersih-bersih kebun dan memulai babak baru dalam hal gardening, sehingga saya tidak berlama-lama menaruh perhatian pada perasaan kehilangan.

Tapi betewe, apakah kami berteman sangat dekat sehingga saya merasa kehilangan? Hehe…enggak juga padahal. Hidup bertetangga di negeri orang tidak seperti di Indonesia yang saling membuka pintu untuk para tetangga setempat. Tidak seperti keramahan di negeri kita yang sepulang dari tukang sayur bisa mampir sebentar ke rumah tetangga sambil ngobrol-ngobrol, disini pintu rumah selalu tertutup untuk orang selain keluarga atau teman dekat. Jarang ada kata-kata seperti, “Mampir, Buk” atau “Main ke rumah dong…” Meskipun rumahnya bersebelahan.

Dulu waktu pertama kali datang di Cloncurry, saya usul ke suami untuk mengantar sepiring kue ke tetangga sebelah sebagai salam perkenalan. Seperti dugaan saya, suami menolak usul itu mentah-mentah. Emang di Jawa? katanya. Iya sih saya tahu, tapi kan pengen gitu ya beramah-tamah dengan tetangga. Apalagi Annalie dan Craig ini orangnya baik, yang belakangan semakin saya syukuri bisa bertetangga dengan mereka di negeri asing ini.

Craig berasal dari Western Australia yang menurut ceritanya tumbuh dalam lingkungan yang berasal dari berbagai macam suku bangsa. Sedangkan Annalie berasal dari Namibia, Afrika. Mungkin itulah sebabnya mereka lebih easy going dan open minded dibanding orang kebanyakan disini. Craig bilang kalau Cloncurry ini orang-orangnya berpikiran 50 tahun ke belakang, masih seperti pikiran cowboy-cowboy kolot yang tak pernah melihat dunia luar. Hihi. Annalie juga sering mengungkapkan kegemasannya dengan orang-orang judgemental yang mempermasalahkan orang dari penampilan luarnya saja. “Just be yourself with your hijab”, ucapannya itu walau sepele tapi cukup membesarkan hati saya. Senang rasanya sebagai minoritas ada yang belain. Hehehe… Oh iya untuk diketahui, Cloncurry, tempat kami mencari sesuap nasi saat ini adalah kota kecil yang penduduknya berjumlah sekitar 3000-an jiwa. Saya termasuk salah satu dari 2 orang ndhil (bahasa Jawa, penekanan untuk jumlah yang sangat sedikit, pen) yang memakai jilbab. Tidak jarang orang memandang sinis pada duo hijabers ini. Itulah sebabnya keberadaan Annalie dan Craig yang ramah dan menyambut kami sebagai tetangganya dengan tangan terbuka, merupakan anugerah tersendiri yang patut disyukuri (udah kayak pelajaran Budi Pekerti aja…)

Di saat tetangga sebelah kiri rumah kami tidak mau menyapa kalau tidak ditegur duluan, Craig dan Annalie seringkali menyapa kami lebih dulu, atau kalau kami yang menyapanya duluan, mereka selalu menghentikan aktivitasnya dan menghampiri kami untuk mengajak berbincang. Saat sedang musimnya, mereka menyilahkan kami mengambil mangga di halamannya sebanyak yang kami mau, menyilahkan mencabuti sereh nya untuk memasak, dan tanpa diminta, Craig selalu berinisiatif menghampiri suami saya apabila mendengar mesin pemotong rumput suami sedang bermasalah. Saya kok jadi merasa mereka sedang mengamalkan adab-adab bertetangga seperti yang diajarkan Rasulullah ya… *jangan-jangan selama ini mereka ikut liqo…ehehe…

Craig dan Annalie berusia sekitar 40an, dan keduanya adalah pekerja keras yang enjoy life banget. Annalie adalah seorang IT freelancer yang menerima job dari sejumlah perusahaan, sementara Craig adalah carpenter, ‘tukang’ kayu yang di hire pemerintah lokal untuk mengerjakan beberapa proyek di Cloncurry dan diberikan fasilitas rumah gratis. Rumah pemberian pemerintah itu awalnya adalah rumah tua yang usang, tapi Craig (dan terkadang dibantu Annalie) merenovasi sendiri rumahnya sampai jadi bagus seperti baru. Eh, ini teh benar-benar merenovasi SENDIRI lho. Ck…ck..ck… Saya dan suami suka geleng-geleng barengan *biar dramatis kayak sinetron, hihi. Selama dua tahun disini, mereka ngerjain rumahnya dengan sabar, satu-satu. Dari memperbaiki bagian dalam rumah, mengecat dinding kayu, memperbaiki atap, membuat jendela baru, membuat beranda, sampai akhirnya rumahnya jadi sangat cantik, kinyis-kinyis (kinclong, pen) tampak modern dengan beranda di depan dan belakang rumahnya untuk tempat berbincang sambil memandang kebunnya yang tertata rapih. *asli mupeng liat beranda dan kebunnya.

Btw mengapa mereka memperbaiki rumahnya sendiri tanpa bantuan tukang? Pertama, Craig sendiri kan sudah carpenter, dia pasti punya keinginan untuk membangun sendiri rumahnya (sotoy banget kan saya). Dan kalau saya perhatikan, orang-orang Aussie ini memang suka dengan dunia pertukangan. Reality show nya saja ada kompetisi tentang renovasi rumah dan pertukangan (klik di sini). Alasan kedua karena, biaya carpenter disini mahaaal bok! Itungannya per jam. Satu jamnya sekitar $30-35 atau kurang lebih IDR 300.000. Kalau jam kerjanya katakanlah 9 jam, berarti dalam sehari bisa menghabiskan $270. Sebulan bisa lebih dari $6.000 alias 60 jeti! Mending dikerjakan sendiri pelan-pelan. Keputusan yang tepat, Craig #ala pelayan Piz*a Hut

Setelah kerja keras merombak rumah hingga jadi ciamik, eh sekarang malah dijual. Ga sayang tuh… Mengapa harus dijual dan pindah setelah rumahnya sudah jadi bagus banget sih…? Jawabannya bukan karena panggilan jiwa Craig mencari rumah tua lain untuk dijadiin bagus (meuni carpenter yang idealis pisan) tapi karena mereka nomaden. Huaa…ini yang bikin ngiri. Sebelumnya mereka memang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hidup di alam terbuka dengan camper van menjelajahi keindahan Australia (caravan-caravan yang ada di film-film itu, yang saya mupeng-in banget itu, ternyata banyak berseliweran disini!!*histeris). Keberadaan mereka untuk  “settled down” sementara di Cloncurry selama dua tahun ini dalam rangka mengumpulkan uang untuk kepindahan selanjutnya.

Nah…tempat yang akan mereka tuju berikutnya adalah Cooktown. Mereka menggambarkan tempat ini sebagai kota yang hangat (tropis) dengan pohon-pohon kelapa dimana terdapat sungai besar yang cantik (tapi berbuaya). Sementara itu mereka sudah memikirkan akan tinggal di rumah dengan lahan luas sebagai halaman belakang, karena Annalie ingin bercocok tanam. Huaaa… Nampak seperti kehidupan di film-film ga sih… *ngiri abis.

Kemudian saya tanya, “Jadi rencananya kalian akan menetap seterusnya disana?”
“Nope”, Craig menggeleng tanpa ragu. Wah kirain sudah tobat. Katanya dia masih ingin mengelilingi benua ini, karena it such a waste cuma tinggal di satu kota saja seumur hidup untuk tempat seindah Australia. Glek! Kami jadi merasa tertohok. Langsung terbayang di benak saya Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang jadi terasa sia-sia jika kami hanya ‘mendekam’ di Ciledug atau Jember saja T_T

Ada lagi yang bikin tambah ngiri. Dalam menempuh perjalanan dari Cloncurry ke Cooktown mereka tidak mau terburu-buru sampai di tujuan. Katanya mereka ingin menikmatinya sembari bermalam di bawah langit bertaburan bintang++. Glekkkh… Ayo Bang, kita jugaaak…#gigit daster.

Kehidupan mereka yang berpindah-pindah itu membuat mereka juga gak repot-repot membawa banyak barang. Dan diantara klaim tentang “ga banyak barangnya” itu, mereka masih memberi kami bermacam-macam peninggalan. Dimulai dari Annalie memberi saya tas asli buatan Aborigin dan sebuah liontin dari batu Australia. Waahh…saya jadi terharu. Nyesel banget kemarin waktu pulang dari Indo ga bawain kerajinan tradisional anak negeri.

Beberapa hari kemudian, sebuah kardus diletakkan di dekat mobil suami yang berisi segala macam pernak-pernik perawatan mobil, dari oli, spray foam, pembersih ban, wipes, wax and polish, dll. Saat besoknya suami basa-basi tanya apakah benda-benda itu dari mereka*biasa orang Indo :D*, Craig malah memberi lagi sebuah batuan Australia yang bisa berfungsi sebagai asbak. Waduh…
Dan kami tidak menyangka kalau besoknya dia meninggalkan lagi sesuatu di depan pintu rumah kami. Kali ini sebuah kursi kayu yang kami duga adalah buatan Craig sendiri. Ya ampuun…dermawan banget tetangga kami ini. Sekalian dipan boleh juga deh…hehe ngelunjak.

Tapi ternyata itu belum berakhir sodara-sodara. Saat mengembalikan piring kami (bekas nganterin makanan tradisional), mereka juga menyertakan ulekan kecil. Ya ampuun…mohon luaskanlah rizki tetangga kami ini ya Allah. Banyak banget yang dibagiin. Padahal kan mereka bisa menjualnya kalau mereka mau, sebagaimana garage sale yang sering digelar orang-orang yang mau pindahan.

Daann…sorenya ternyata masih ada lagi! Kami baru pulang dari Mount Isa saat mendapati sebuah meja panjang portable dan sebuah lukisan huruf kanji diletakkan di depan rumah kami. Ya ampiuun…gimana ga terharu coba. Karena itu esok paginya, meski biasanya kalau libur kami sering bangun kesiangan, hari itu kami bela-belain keluar rumah dingin-dingin untuk melepas kepergian tetangga kami ini. Mudah-mudahan kalian selamat dan selalu bahagia. Terima kasih ya… Kalian adalah bukti dari pepatah, “Semakin sedikit beban yang dibawa, semakin tinggi terbangnya.”

++ Karena travelling dengan caravan merupakan hal yang lumrah di Australia, maka banyak tersedia juga lahan parkir khusus untuk para caravan-ers yang bermalam di jalan.

Advertisements

Dim Sum Halal di HK (bag 2)

(21 Jan 2012)

Ini beberapa menu yang biasanya kami makan di Kantin Halal Masjid Wan Chai. Recommended. Glek… Ngebayanginnya aja udah bikin ngiler…

Steamed Tofu with Shrimp. Harga: HKD 12 saja untuk 4 buah.

Tahu sutra yang dikukus bareng sama udang. Uenak bangett. Lembut dan gurih. Kalo di komik-komik Jepang yang ceritanya tentang lomba masak, mungkin kokinya udah teriak, “Aww…rasanya seperti musim semii!!”

Steamed Siumai with Chicken. Harga HKD 10 untuk 4 buah

Aduw…yang ini jangan ditanya deh… Bisa nambah-nambah (kalau yangmau nambah..) Biasanya kalau masih ada stoknya (mengingat menu ini laku banget), kami juga membeli seporsi untuk dibawa pulang. Diangetin di magic jar buat besok paginya juga masih enak lho…

Steamed Beef Balls, Harga: HKD 10

Yang ini kayak bakso. Hehe..yaiyalah…judulnya aja beef balls. Tapi lembut deh. Dan insya Allah tanpa formalin 🙂
Steam Shrimp Dumplings, HKD 12 untuk 3 buah.


Nyamm. Ini pun tak kalah enak. Udangnya berasa banget (agak banyakan dibanding shrimp tofu). Makanya harganya juga agak mahal dua dolar :))  Menu ini juga favoritnya para pengunjung. Jadi kalau si koki udah ngisi lagi (biasanya kalo dim sum sudah tinggal sedikit, koki akan mengisi lagi dengan dim sum yang baru matang), siap-siap memburu ya. Karena bakalan cepet habis lagi!
Deep Fried Spring Roll with Chicken and Vegetables, HKD 8

Naah….kalo goreng-gorengan begini hobinya suami saya. Spring roll di Kantin  Wanchai renyah dan sedap. Apalagi kalo dicocol sama sambel cabe khas mereka yang cukup galak juga di tenggorokan. Spring rolls di kantin ini banyak macemnya, tergantung mau yang isinya apa.
Ini dia sambelnya….

Buat penggemar sambel, jangan remehkan yang sedikit ini ya. Nyocolnya jangan langsung banyak-banyak. Bisa keselek lho ntar saking pedesnya. Dikit aja udah nendang banget… Itu kata suami saya yang seneng pedes. Kalo saya beraninya cuma nyocol mayones. Di Kantin ini banyak pilihan sambel kok.. Ada sambel cabe, mayones, saus kedele, dan saus2an ala Cina yang saya juga gak tau itu bahannya dari apa.

Hm, tapi ada juga ding yang ga rekomended. Kami nyobain karena waktu itu dim sum nya pada habis, akhirnya kami coba yang ini.
Steamed Siumai with Lotus Root and Shrimp, HKD 12

Harusnya udah tau dari judulnya ya, akar-akaran 😦 rasanya agak aneh. Ngeres. Kalo kesana pas kebetulan dimsum tinggal dikit dan adanya cuma ini, jangan nekat diambil ya. Tunggu aja beberapa menit, sang koki pasti bawa lagi stok lain yang masih baru.

Dari tadi dimsum mulu…Gak ada menu lain kah? Oh, banyak…ada di daftar ini…

 

Dari sayuran, ikan, ayam, sapi, sup, goreng-gorengan, tumis-tumisan, lengkap. Kami pernah mencoba nasi goreng salmon dan sangat puas dengan rasanya. Harganya juga ga mahal lho. Kalo ga salah cuma HKD 30 dan itu porsinya banyak. Cukup buat dua orang yang kelaparan. Hehe… Kami juga pernah iseng-iseng coba yang judulnya: Stir Fried Sliced Beef and Green and Red Pepper with XO Sauce. Kalo liat dari fotonya kayaknya enak. Apalagi judulnya panjang dan ada XO nya, kayaknya keren :p Meskipun kami juga gak paham XO sauce itu apa  (di wikipedia:  a spicy seafood sauce used in Chinese cuisines especially in southern China such as Guangdong province and Hong Kong). Tapi enak juga. Kata koki Manga, kayak musim panas 😀 Lumayan hot. (sst…soalnya orang Hong Kong ga suka pedes. Jadi kalo mereka bilang pedes, jangan terlalu percaya ya! Saus sambel ABC aja buat mereka udah pueedess bangett. Beda sama orang Cina daratan. Kalo mereka bilang pedes, berarti beneran).

Waktu kesana sama ibu-ibu KJRI saya pernah nyobain sup nya. Eh, enakk juga. Seger, gurih, hangat di perut, dan bikin pengen nambah terus. Oh iya, ini porsi supnya banyak lho ya. Jadi kalo kita kesana cuma berdua, saran saya jangan pesen menu ini. Kecuali usus kita sangat panjang. Hehe… Karena kalau cuma dihabiskan berdua, insya Allah kita sudah cukup kenyang dan kembung tanpa perlu memesan menu lainnya.

Dan…ada satu menu yang iseng kami pilih dan akhirnya jadi agak-agak ketagihan karena enaknya. Yaitu: Deep Fried Crispy Tofu with Spicy Salt. Sampe-sampe saya penasaran dan bikin sendiri di rumah dengan versi saya (alasan sebenarnya sih karena harga yang di kantin cukup mahal untuk ukuran bahan-bahan yang bisa kita dapatkan dengan murah di pasar) Ini dia penampakannya…

Rasanya memang sesuai judulnya. Renyah, gurih, dan lumayan spicy. Kalo yang saya bikin, yah mendekati lah…seladanya doang. Hehe…

Eniwei, pengunjung kantin ini juga beragam. Ada orang-orang kita,

Tuan tanah,

ibu-ibu pengajian Cina,

bahkan bule pun ada. .


Apalagi ya… Paling menu-menu itu saja yang pernah kami coba dan masih pengen kami coba lagi. Kalau kesana lagi…

Oh iya. Di kantin ini ada jam-jamnya untuk Last Order ya. Jangan sampai kita kesana di jam yang salah, karena gak bakal dimasakin apapun juga.

Untuk Breakfast and Lunch, 10 am – 3 pm Untuk  Dinner, 6 pm – 9 pm Kalo sore ada afternoon tea, 3 pm – 6 pm (tapi kita ga bisa pesen makanan)

Sedikit melenceng dari dim sum, sebenernya di Hong Kong juga banyak bakery. Orang HK penggemar yang manis-manis. Mungkin itu alasannya kenapa banyak bakery yang juga jual aneka macam cake dengan penampakan yang menggoda air liur. Dan kalo dibandingkan sama Jakarta, harganya juga murahhh cyinn….

Perbandingannya seberapa? Hampir tiga kali lipatnya. Seingat saya, satu slice cheese cake yang dipajang-pajang di etalase Secret Recipes itu harganya sekitar 25 ribuan. Di HK, cheese cake di home made bakery harganya cuma sekitar 8 dolaran. Kalo selain cheesecake, macem black forest atau cake coklat, moka, kopi, tiramisu,dsb yang bentuknya menggoda itu, harga satu slice nya cuma 4 dolaran (ke atas). Kalo di Indo mungkin 10 ribuan ya…? Satu full cake kecil yang di Indomaret kalo gak salah saya pernah liat harganya sekitar 130 ribuan (itu di Indomaret ya…saya ga tau kalo di Harvest atau Secret Recipe berapa), di HK,  sekitar 70 dolar sudah dapat black forest, atau tart yang modelnya angry birds. Roti bun kalo di Indo 8ribuan, disini cuma 3 dolaran. Di sekitar tempat tinggal kami, ada 3 toko roti yang terdekat, dan berdekatan. Kalo males bikin sarapan, tinggal masuk toko roti, pilih  roti yang aman dari dagging-dagingan.

Tapi yang bikin sedih, semenjak saya baca artikel tentang kandungan makanan yang dicurigai haram, dan sebagiannya terdapat pada produk olahan roti (silahkan baca di sini dan sini), saya jadi pikir-pikir lagi kalau mau beli roti disini.   Kalau home-made bakery kan tidak bisa kita lihat ingredients nya ya.. Kecuali nekat nanya sama penjualnya yang rata-rata galak itu..

Mudah-mudahan aja ada pengusaha muslim HK yang segera membangun bakery halal disini. Aamiin… Dan mudah-mudahan bakery di Indo tetap mahal, jadi kalo besok-besok saya punya bakery yang murah (dan enak) (aamiin..), bakery saya jadi yang paling laku. Huahaha…

Dim Sum Halal di HK (bag 1)

 

(18 Jan 2012)

 

Ternyata bertebarannya tempat makan di sekitar kita tanpa perlu khawatir tentang halal tidaknya makanan tersebut adalah suatu nikmat yang sangat besar. Kami baru merasakannya di HK.

Di sini bisa dibilang cukup sulit mencari makanan halal. Rata-rata orang HK memang gemar daging binatang yang diharamkan oleh agama saya (kita sebut saja BB ya). Bukan hanya gemar, mungkin sudah ibarat makan tahu tempe kalo buat kita orang Jawa.

Di semua tempat makan hampir selalu ada kandungan daging BB nya. Mungkin hanya ada dua jenis restoran yang tidak mengandung daging BB, restoran halal, dan restoran vegetarian.

Di masa-masa awal kedatangan kami di negara ini, biar aman kami mencari franchise-franchise yang sudah terkenal di Indonesia, seperti KFC atau Mc D (goodbye boikot Israel…) Saya pernah membaca penjelasan dari seorang ustadz, kalau kita berada di negara agama-agama samawi seperti Nasrani atau Yahudi, kita diperbolehkan memakan daging sembelihan mereka (selama bukan daging hewan yang dilarang).

Tapi belakangan, setelah melihat banyaknya restoran yang memajang bebek dan ayam-ayamnya dalam posisi digantung, kami jadi ngeri mau makan ayam kalau tidak beli sendiri di tukang  jagal halal. Masalahnya, si bebek dan si ayam sepertinya bukan tewas karena disembelih. Kami melihat leher mereka tidak terpotong, melainkan terdapat bekas lubang di tengahnya.

Entah dengan cara bagaimana mereka dibunuh.. (kok jadi kayak berita kriminal ya). Jadi sekarang kalaupun terpaksa membeli di McD atau KFC, kami hanya membeli kentang gorengnya saja. Atau nasinya saja (di KFC, semua menu nasi ada topping nya, nasi favorit kami yang toppingnya mushroom)

Dan…meski di Indonesia identik dengan ayam, McD atau KFC disini lebih bervariasi mengikuti selera lokal. Betul, mereka pun menaruh BB dalam daftar menunya. Bahkan di Pizza Hut pun, dari 10 menu yang tersedia hampir semua mengandung BB, kecuali satu: pizza yang isinya sayuran semua alias khusus vegetarian :)))

Karena BB sudah merupakan makanan pokok, that’s why mereka kadang menyimpan keheranan pada orang muslim yang tidak makan BB. Pernah ada orang HK bertanya pada saya,

“Kamu orang Isilama (Islam maksudnya, kadang-kadang mereka kesulitan mengakhiri kata dengan konsonan) nggak makan BB ya? Terus makan apa?” Raut mukanya bener-bener heran seolah-olah di dunia ini makanan memang cuma BB saja. Saat itu saya jawab kalau masih bisa makan daging lain; ayam, sapi, ikan. Dia tetap heran. Katanya daging babi enak.

Kata seorang sahabat saya, Nita, kalo gitu cari aja BB yang sudah disunat. Hehehehe…..

Oleh daripada karena sebab itulah, maka jika hari Minggu tiba, tempat favorit suami dan saya adalah Masjid Wanchai yang punya nama lengkap Osman Ramju Sadick Islamic Centre, Hong Kong.

Di lantai 5 masjid ini, terdapat kantin halal. Bentuknya China Cuisine, tapi dijamin free-BB, dan insya Allah semua menunya halal. Harganya pun pas di kantong. Apalagi kalau makannya rame-rame, lebih enteng lagi di kantong karena bisa patungan 🙂  Menu paling favorit para pengunjung adalah dim sum. Dan kayaknya untuk di Hong Kong, memang cuma disini bisa makan dim sum tanpa kawatir ada campuran BB nya.

Buat temen-temen yang berencana ke HK, mudah-mudahan bisa menyempatkan mampir ke kantin ini dan nyobain sendiri kelezatannya ya! 😉

PS: Selain Kantin halal Masjid Wan Chai, cukup banyak juga kok toko atau warung Indonesia yang menyediakan makanan halal, asalkan kita berada di tempat yang tepat (banyak komunitas warga kita), seperti Causeway Bay, Tsuen Wan, atau Yuen Long. Salah satu warung yang terkenal adalah Warung Chandra–hampir di semua wilayah yang ada Indo-nya, warung ini eksis.

Di warung-warung Indo tersebut kita bisa menikmati soto, lodeh, tempe penyet, pecel, sampai urap-urap dan ikan asin disambelin pun ada. Lumayan sering saya beli nasi bungkusan di warung-warung ini, apalagi kalau malas masak atau sedang hemart. Murah meriah dan pas di lidah. Nasbung seharga 15 dolaran. Bagaimana dengan kehalalannya? Mereka sih meng-klaim makanannya halal. Tapi semenjak lihat bebek dan ayam “gantung” tadi, saya gak yakin juga sama menu yang berbau-bau daging.

Kalau di daerah lain yang minim orang Indo, Tsim Sha Tsui misalnya (meskipun ada masjid juga disitu dan cukup ramai dikunjungi WNI), tempat makan halal yang banyak kita jumpai adalah restoran India atau Pakistan.

Sekian info halal dari saya. Semoga bermanfaat :))) Silahkan klik selanjutnya untuk menu-menu favorit di Masjid Wan Chai.

Sham Shui Po

Postingan lama (27 Oct 2011)

Sepekan kemarin saya tak sabar menunggu hari Sabtu. Pasalnya abang libur, dan rencana untuk membunuh waktu hari Sabtu ini adalah Sham Shui Po. Yaay!

Saya tertarik untuk pergi ke Sham Shui Po karena berdasar obrolan ibu-ibu pengajian, Sham Shui Po salah satu tempat belanja baju-baju bagus dengan harga murah. Hm…belum tentu mau belanja sih, tapi jadi penasaran….di HK jual gamis juga gak ya??

Naaah…pas nggoogling tentang Sham Shui Po, ternyata daerah ini selain tempat baju, sebenernya juga salah satu pusat elektronik dan hape terbesar di HK.  Asik…..bisa jadi alasan kuat untuk ngajak misua kesana nih. Kalo keyword nya elektronik, dijamin dia pasti tertarik! Hueheheh….*niat terselubung padahal pengen cari yang lain*  Dan dugaan saya benar, suami menyambut baik ajakan saya. Apalagi dia juga lagi pengen cari torch (halah…ngomong senter aja gaya bener). Pas sudah, memang Sham Shui Po lah tempatnya. Mari berangkat! Sham Shui Po terletak di pulau Kowloon (masih satu pulau dengan Yuen Long). Kami memilih naik MTR kesana. Sebenarnya ada bis dari Yuen Long yang menuju Sham Shui Po, tapi belum tau rute-rute dan nomor bus nya, jadi untuk gampangnya kami memilih naik MTR aja. Dari Yuen Long cuma ngelewatin 6 stasiun (interchange station di Mei Foo) dan sampailah kita di Sham Shui Po.

Kalo mau cari barang elektronik, pilihlah pintu Exit A2 atau C2. Pintu itu akan mengantarkan kita ke Apliu Steet, pusatnya barang-barang elektronik. Kalo pusat komputer, pusat baju grosiran, beda lagi pintu exitnya. Silakan cari sendiri di google. Hehe… Begitu keluar stasiun, kita langsung disambut open-air street market yang membentang di sepanjang jalan! Wahh…seruu!! Jadi inget pasar Unpad semasa di Jatinangor dulu.

Bedanya, kalo pasar Jatinangor cuma buka hari Minggu, street market di Sham Shui Po buka setiap hari. Tujuh hari selama seminggu! (kecuali ada badai, mungkin). Terus kalo pasar Jatinangor menjual berbagai macam barang (dari baju sampe jasa meramal tangan), pasar Apliu Street, lebih dari tiga blok itu jualannya barang-barang elektronik semuah! *Glek* (Eh, ada juga ding nyempil barang-barang lain, tapi ya tetep barang elektronik yang mendominasi). Selain itu, yang jualan bukan cuma lapak temporer aja lho, masih ada lagi toko-toko permanen yang berjajar di belakang dan di sepaaanjang lapak-lapak temporer itu. *Glek glek* Huiih…..bener-bener gak salah kalo HK dijuluki surga belanja.

HK Apliu Street 超域音嚮 Clarion Audio 科寶膽機 三蛇店 2002
Image via Wikipedia

 

Kami langsung hunting cari barang suami. Eh, maksudnya barang yang diinginkan suami, yaitu senter  Biasanya, suami saya ini simpel aja dan gak ribet kalo cari barang. Begitu ketemu yang sreg, langsung dia beli. Beda ama saya yang masih pengen cari sampe di pucuk-pucuknya, meski ntar ujung-ujungnya juga balik lagi di toko pertama. Nah, malem ini kada begitu kawan. Mungkin terpengaruh atmosfer pasar yang sayang untuk dilewatkan untuk sekedar mampir di satu-dua lapak aja, dia sowan dari lapak satu ke lapak yang lain. Banding-bandingin barang, banding-bandingin terangnya lampu senter, banding-bandingin harga juga pastinya.

Kebanyakan harganya ditempel di barang—thank God—jadi kita bisa tau tanpa harus nanya ke penjualnya. Sebab, kami belum bisa bahasa Kanton, maaa…. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, kalo penjualnya dari HK sih kebanyakan masih bisa bahasa Inggris (meski artikulasinya agak aneh). Lha kalo pas penjualnya orang Cina, blas babar pisan gak ngerti bahasa Inggris. Biyuh… Kalo udah begitu, serahkan pada kalkulator. Tawar-menawarnya dengan mengetik angka di kalkulator. Hehe…seru juga. Kalo harganya masih terlalu mahal, kami lambai-lambai tangan atau geleng-geleng kepala sambil nyureng. Kemudian ngetik angka lagi di kalkulator. Gantian mereka yang geleng-geleng sambil merengut saat melihat angka yang kami minta. Atau kadang misuh-misuh kalo penjualnya jutek. Atau kalo yang ambekan, ada juga yang menggeleng dengan ekpresi dingin sambil langsung naroh kalkulatornya menyudahi tawar-menawar. Huh… (tapi saya curiga sepertinya sih itu memang trik mereka supaya harga tetap tinggi) Tapi masalahnya, kami berdua males berlama-lama nawar. (Eh, bilang aja ya gak jago nawar. Wkwkwk… ) Jadi kalo harganya dirasa sudah masuk akal dan barangnya pun kita suka, okelah inyong ambil. Yang repot, kalo kita gak terlalu suka sama barangnya tapi iseng nawar, dan ternyata dikasih harga yang kita minta. Haiyaa…..! Beli, gak suka. Gak beli, diomelin pake bahasa Cina. Lha terus ngapain nawar mbook??? Hakhakhak…

Sekitar jam 10an kami pun pulang. Sempet juga liat-liat baju meski gak terlalu jauh menyusuri jalanannya. Tempatnya di Cheung Sha Wan Road. Dari pintu C2 langsung belok kiri, kita bakal ketemu sama sederetan puaaanjaaang toko yang jual baju semua! Oooh…menggiurkan.  Dan memang bener, bajunya lucu-lucu! Tapi belum ketemu gamis. Gak papa….jadi ada alasan untuk bisa survey lagi next time 😉

Untuk sementara, jalan-jalan di SSP menyenangkan. Dapet senternya, dapet juga pegelnya. Sesampainya di rumah, langsung cari counterpain.

Trip to ShenZhen (part 3)

Last part: Jreeng…adegan tawar-menawar  🙂

Seperti yang pernah saya ceritakan, menawar di Luo Hu dan di Dong Men agak-agak beda. Di Luo Hu butuh lebih banyak urat karena harga yang ditawarkan memang sangat tinggi! Barangnya memang branded, dan kualitasnya juga OKE. Mungkin KW superrr ya. Kulitnya bagus dan dalamnya gak terlalu kasar. Untuk tas branded, rata-rata mereka menawarkan barang di atas harga 600-700 yuan. Bisa sampai di atas 1000 yuan lho! Berbeda dengan Dong Men. Mungkin karena Dong Men memang distrik belanja jadi banyak saingan, sehingga harga-harganya pun lebih bersahabat. Tas branded yang dijual 700 di Luo Hu bisa kita dapatkan dengan harga 250 yuan saja di Dong Men. Belum ditawar. Tapi kualitasnya agak-agak beda. Kulit tasnya lebih bagus di Luo Hu.

Hm..pencapaian kami di Luo Hu berhasil mendapatkan tas M**berry KW superrr yang harganya dibandrol 850 yuan menjadi 130 yuan saja. Waaaahhhh……ini sesuatu banget loooh. Kami yang tidak jago nawar ini ngerasa puas bisa menawar sampai serendah itu. Oh iya, penawaran kami itu = saya+suami. Hihi…entah kenapa dia jadi semangat nemenin belanja dan ikutan nawar-nawar juga. Biasanya, boro-boro 😀

Ada juga tas B**tega seharga 1200-an yuan (!!!!) Gilaaak…. mosok tas palsu sampe segitu. Tapi memang bagus sihh.. Bahannya bagus dan kalau digantungkan di tangan jatohnya baguusss banget.  Awaww…pengenn.. Dan setelah pertempuran yang sengit, akhirnya tas itu jatuh juga dalam koper kami dengan barter 200-an yuan.  Hwaww…! Kayaknya sesuatu banget bisa ngejatohin harga yang gak masuk akal itu jadi lebih terjangkau. Meskipun setelah keluar dari tokonya masih dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya bisa yaaaa…ditawar lebih murah lagiiiiiii…! Hahaha…gak ada puasnya.

Kalau di Dong Men beda lagi. Mereka memasang harganya sudah manusiawi. Biasanya sekitar 200-500-an saja. Jadi kita nawarnya juga gak terlalu alot. Untuk barang-barang non branded bahkan lebih murah lagi. Banyak tas lucu-lucu seharga 30-50 yuan saja 🙂

Oh iya, bagaimana dengan bahasa? Jangan khawatir. Orang China, berbeda dengan orang Hong Kong, memang sangat jarang yang bisa bahasa Inggris. Tapi kalau pedagang-pedagangnya lumayan banyak yang bisa meskipun hanya terbatas pada bahasa standar perdagangan, seperti “How much” “This is vely nice” “Nooo”  bahkan “Mulah..mulah..” (murah, :)) Hehe…

Biasanya kita dan penjual akan bertransaksi lewat kalkulator. Jadi mereka menunjukkan harganya ke kita kemudian kita mengetik balik harga yang kita mau. Seru sih tawar-menawarnya. Kalau yang senang nawar pasti gampang lah menaklukkan mereka. Kalau yang masih belajar seperti kami, ada beberapa tips yang mungkin bisa dicoba 🙂

Pertama, tawarlah seperlima atau kalau di Luo Hu, seperenam dari harga yang mereka beri.

Kedua, jangan sampai tertipu dengan ekspresi kaget mereka terhadap harga rendah yang kita minta. Biasanya mereka akan bereaksi “Noo!!” sambil cemberut, geleng-geleng, dan berkata kalau harga yang kita tawarkan terlalu rendah. Mereka akan bilang kalau barang tersebut kualitas yang sangat baik, dll, dll. Membuat kita jadi gak enak. Hihihi…. Tapi tetap tenang dan tunjukkan muka gak peduli dengan penjelasan mereka.

Ketiga, saat mereka mengajukan harga baru yang sedikit lebih rendah dari yang mereka tawarkan tadi, tetaplah pada harga kita yang sebelumnya. Kalau menaikkan tawaran, tambahin 5 yuan saja atau 10 yuan paling banyak! Jangan lebih dari itu!

Keempat, tips pamungkas yang klise, di tengah tawar-menawar yang alot, langkahkan kaki menuju pintu keluar toko mereka. Hehehe…. Dijamin mereka akan memanggil-manggil kita lagi dan memberikan harga yang mendekati tawaran kita.

Nah, selanjutnya terserah Anda 🙂 Tawarlah dengan harga yang menurut Anda sesuai dengan kualitas barangnya.

Enaknya di ShenZhen, penjualnya ramah-ramah. Tidak seperti di Hong Kong yang rada galak. Kalau kita menawarnya sangat rendah, mereka akan menggeleng sambil bilang “No!”, menaruh kalkulator dan mengucapkan “bye-bye” dengan dingin pada kita. Jlebbbb…! Hahaha…sadis banget. Tapi tenang, di ShenZhen tidak ada yang seperti itu 🙂

Akhirul kata, selamat berbelanja ya…!

Trip to ShenZhen (part 2)

Mata Uang

Mata uang di ShenZhen adalah RMB (Renminbi) atau lebih kita kenal dengan Yuan.

Kalau kita bertolak dari Hong Kong dan masih membawa Hong Kong Dollar, ada beberapa alternatif penukaran uang.

1. Tukarkan selagi masih di Hong Kong. Kenapa? Karena exchange di HK insya Allah terpercaya. Disini peraturannya sangat ketat. Hukum sangat ditakuti dan polisi sangat disegani. Kalau ada yang terbukti berbuat penipuan, dijamin pasti akan diusut sampai tuntas dan dikenai hukuman yang pantas! That’s why orang-orang HK rata-rata taat hukum. Jadi lebih aman ditukar di HK dulu daripada di SEZ.

2. Kalau harus menukarkan di ShenZhen…. Maka tukarkan selagi masih di Luo Hu Port, di jasa penukaran uang terpercaya yang masih ada di dalam gedung. Atau ada juga yang terletak di samping kantor imigrasi pembuatan Visa On Arrival. Hati-hati tukar uang di ShenZhen karena banyaknya uang palsu yang beredar.

3. Ambil uang via ATM Ini kalau kita gak bawa uang cash. Cara ini sebenarnya yang paling praktis dan aman. Tidak perlu menunggu. Dan uangnya juga dalam kondisi yang sangat bagus dan dijamin asli. Kalau kita punya account di HSBC malah tidak dikenakan biaya administrasi untuk mengambil di ATM yang sama. Tapi cara ini juga agak kurang menguntungkan dari segi kurs yang biasanya lebih rendah atau biaya yang dikenakan jika kita kartu ATM kita bukan dari bank yang ada di Hong Kong atau China.

4. Pakai HK Dollar… Rata-rata toko di ShenZhen menerima pembayaran dengan HKD juga kok. Jadi kalau gak sempat tukar uang atau pas mau pulang tiba-tiba liat barang lucuu sedangkan yuan sudah habis, tenang…pake HKD juga diterima kok 🙂 Perhitungan konversinya juga gak ribet.

Selain itu, hati-hati menyimpan uang dan paspor ya. Daerah ShenZhen dan GuangZhou dikenal rawan pencopetan. Selalu waspada dan banyak-banyak doa aja 🙂 Tapi kalo udah belanja mah gak akan inget doa ya. hehe….

Trip ke ShenZhen (part 1)

Postingan lama

Wisata Rohani. Halaah….

Hari Minggu kemarin, 10 Juni 2012, alhamdulillah keturutan juga saya dan suami pergi ke Shenzhen. Menjelang kepulangan kami yang insya Allah tinggal beberapa hari lagi, ini waktu yang tepat untuk berburu oleh-oleh 🙂

Kami berangkat sekitar jam 9an pagi dari rumah setelah sarapan nasi goreng banyak-banyak. Hehe…supaya tidak terlalu lapar disana. Pasti sangat susah untuk mendapatkan makanan halal di Shenzhen. Jadi perut harus dibuat kenyang dulu. Oh iya, minum banyaknya juga selagi di rumah aja, supaya di jalan nanti ga kebelet pipis. Tolietnya kan tidak ada air dan (maap) joroks. Uhhh….ngebayangin toilet mereka saja sudah horor. Beruntung alhamdulillah, kesampaian juga harapan saya untuk tidak masuk toilet di China.

Kami berangkat dengan bus…mmm…arghh..hahaha…lupa lagi nomornyaa! Pokoknya dari Yuen Long, hanya dua bus stop saja, sampailah kami di Sheng Shui. Nahh..Sheng Shui itu stasiun MTR yang next stop nya adalah Lo Wu (atau Luo Hu) which is pintu gerbang masuk ke wilayah Shen Zhen. Jadi…..alhamdulillah perjalanannya tidak terlalu jauh! Ada untungnya juga tinggal di Yuen Long, daerah pinggiran New Territories yang letaknya berdekatan dengan mainland China.

As we know, sejak Hong Kong diambil alih kembali oleh RRC, maka Hong Kong pun merupakan wilayah RRC juga–meskipun mereka menamakan dirinya HKSAR (Hong Kong Special Administrative Region). Tapiiii….walaupun sama-sama RRC nya, kita musti pake visa lagi untuk masuk Shenzhen. So, kita pun harus melewati gerbang imigrasi untuk membuat VOA (Visa on Arrival).

Kantor imigrasi untuk pembuatan VOA ini kalau tidak salah buka terus setiap hari, dari jam 7 pagi – 23 malam. Pembuatannya ga terlalu lama, mungkin setengah jam kalau antriannya bersahabat. Yang penting, begitu sampai kantornya langsung ambil nomor di komputer antrian ya! Baru deh ngisi form nya. Biaya VOA ke Shenzhen RMB 168, kecuali untuk beberapa negara yang terkena biaya lebih tinggi. Untungnya Indonesian Nationality dikenakan biaya standar. Visa ini cuma untuk single entry dengan masa berlaku selama 5 hari.

Gak disangka, pas lagi ngantri ada yang manggil saya. Kagetlah eike. Kayaknya gak mungkin deh ada yang kenal disini. Eh, ternyata dulu mbak yang pernah ikut Kejar Paket C di GITC. Dia sedang memperbarui visanya. Di Hong Kong, visa untuk domestic worker berlaku selama 2 tahun. Jika dia memperpanjang kontrak, atau ganti majikan (aishhh….tidak enak sekali menyebut kata-kata ini kalau yang jadi “pekerjanya” adalah orang kita juga 😦 ), maka harus membuat visa baru dengan cara keluar dari Hong Kong dulu lewat ShenZhen atau Macau. Setelah itu baru bisa kembali ke Hong Kong.

Setelah VOA beres, tinggal sekali lagi mengantri di exit-gate pemeriksaan imigrasi lalu bebas deh. Silahkan jalan-jalan sepuasnya di SEZ (Special Economic Zone). Salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di ShenZhen adalah Dong Men. Kalau naik Metro Subway, turunnya di Lao Jie, hanya dua stasiun dari Luo Hu. Dong Men bener-bener kayak surga belanja deh. Segala macam toko fashion dari sepatu, tas, baju bayi, anak-anak, remaja, dewasa, laki, perempuan, dari yang asli sampai yang palsu, semuanya tersedia. Kumplit pokoknya! Ibu-ibu yang suka belanja pasti betah lama-lama disini (eh, semua ibu-ibu dong kalo gitu :p).

Kalau di Dong Men sangat kumplit tapi juga sangat crowded dan memusingkan, kita yang pengen suasana agak tenang juga bisa belanja di Luo Hu. Begitu keluar dari pemeriksaan imigrasi di Luo Hu port, kita langsung disambut dengan gedung pusat perbelanjaan macem ITC gitu. Suasananya lebih rileks dan tenang, meskipun barang-barang yang ditawarkan juga gak sebanyak di Dong Men. Dan heitttsss…..hati-hatiii! Kalau di Dong Men harganya miring, di Luo Hu ini termasuk tinggi bangettt sodara-sodara! Harus bisa banget nawarnya. Kami berdua ini aslinya gak jago nawar. Tapi alhamdulillah pengalaman beberapa bulan di Hong Kong membuat kami sedikit meng-improve cara menawar yang baik dan benar. Hehehe…. Boleh baca juga tips nya di sini.

Suasana di luar Luo Hu Port…

Di depan ITC-nya Luo Hu..Agak sepi ya..

 

Di Dong Men

Di ShenZhen ini, barulah kami merasakan dan mengerti, kenapa orang Hong Kong agak-agak gimanaa gitu..terhadap orang dari mainland. Waktu awal-awal dulu kami bingung juga kalau ada orang Hong Kong yang gak suka orang daratan. Lho bukannya sama-sama Chinese nya ya?? Kami jadi merasa kalau orang Hong Kong ini kok sok sekali yhha… Gak mau ngakuin asal-usulnya. Mentang-mentang wilayahnya tersentuh peradaban Eropa (jajahan Inggris).

Tapi setelah berada di ShenZhen ini….kami jadi sangat memahami perasaan orang HK yang rada sentimen sama orang mainland. Haiyyyaaa….. Kualitas Hong Kong jadi kelihatan jika dibandingkan dengan mainland.

Disini agak semrawut keadaannya. Padahal ShenZhen termasuk salah satu kota di RRC yang berstandar internasional. Tapi gimana ya…mungkin karena sudah terbiasa melihat Hong Kong ya (huek…gaya banget kan…macem kampung halaman sendiri aja). Salah satu contohnya subway. Di ShenZhen gak serapih, sebersih, seteratur, dan seterawat MTR-nya Hong Kong. Wheeww….orang Hong Kong bener-bener jagoan deeeh mengatur sistemnya sampai sedemikian rupa…..

Kalau kondisi kotanya…..Shenzhen bersih sih..dan modern juga. Metropolitan banget. Tapi kalau disandingkan dengan Hong Kong ya masih kalah. Terus suasananya juga lain. Orang-orangnya hm….gimana ya bilangnya…yang pasti orang-orang Hong Kong terlihat lebih educated dan polite. Whaa….padahal dulu saya merasa orang Hong Kong galak-galak. Hehe…. Belum lagi masalah kemanannya. Dan penegakan hukumnya. Pokoknya hari itu jadi saluttt banget sama Hong Kong.

Dan terlontarlah pengakuan saya dari hati yang paling dalam, dengan suara pelan,

“Kangen Hong Kong ya, Bang..?”

Eh, suami saya menjawab, “Iya.” Hahaha…..kita berdua langsung tertawa bareng. Ternyata oh ternyata….. Hong Kong yang kayaknya “sadis” bisa jadi sangaaat sangaat homy dibandingkan daerah lain di sesama wilayah RRC ini.

Kami gak betah berlama-lama di ShenZhen. Pengennya cepet-cepet sampe Hong Kong lagi. Jadi bersyukur juga karena rencana semula yang pengen ke Guang Zhou dan menginap sehari disana gak sampai terlaksana. Lha wong baru di ShenZhen aja sudah homesick. Kami sempat mampir sebentar di Window of The World yang katanya iconnya ShenZhen. Isinya seperti miniatur dunia. Sebenarnya kami gak terlalu tertarik kesana, mungkin buat syarat asal pernah kesana aja biar ga penasaran…biar kalo ditanyain udah pernah ke Window of The World belum? Kami bisa jawab udah. Hihihi…norak ya.

Begitu sampe sana, hmm…bagi kami sih ya…tempatnya ga terlalu menarik. Pake tiket masuk segala sekitar 140 yuan kalo ga salah. Males ah… Sayang duitnya :p Lagian bawa-bawa koper boo… Risih diliatin orang-orang.


Belum lagi jilbab yang saya pakai ini sepertinya tampak ajaib bagi orang-orang disana. Mungkin karena lagi musim panas juga kali ya. Yang lain pada pake baju-baju yang berangin seperti yukensi atau rok mini, saya malah pake lengan panjang, celana panjang, plus penutup kepala pulak 😀


Dari mampir ke Window of The World yang cuma sekitar 15 menit saja, kami naik subway lagi langsoong menuju Luo Hu. Dari Luo Hu ke Sheng Shui, langsoong naik bus menuju Yuen Long. Alhamdulillaaahhh….lancarr.

Mungkin perjalanan kami ke ShenZhen ini, selain untuk berbakti pada keluarga dengan mencarikan mereka oleh-oleh di tempat yang harganya murah meriah (hehehe…maklum keluarga besaaaarr) juga untuk membuat kami melek bahwa tempat yang kami tinggali selama beberapa bulan ini memang yang terbaik untuk saat ini. ShenZhen menegur kami untuk banyak-banyak bersyukur dibanding mengeluh. Huhuuu….maaf ya Allah. Terima kasih banyak-banyak untuk semuanya.

Kembali ke Hong Kong, saya melihatnya dengan mata yang berbeda dan mulut yang lebih banyak tersenyum.  Waaaahhh….Hong Kong, I admit that I love you, at last.

Untuk tempat belanja, ShenZhen memang lebih murah dan banyaaak pilihannya dibandingkan dengan Hong Kong (branded-branded yang palsu maksudnya…karena orang HK nganggepnya aib banget kalo ketauan pake yang palsu. hehe…). Tapi untuk tempat tinggal, memang Hong Kong jauh lebih nyaman.

*anyway, maaf ya, ternyata foto-fotonya narsis semua  ya..hehe…

Multiplied *Dan Ku Hanya Ingin MengenalMu

28 Nov 2012

Lagi, tulisan lama yang tergusur dari Multiply. Another story about my beloved Celebes.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saat liputan di desa Parondobulawan, Kecamatan Mamasa, Sulawesi Barat. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan di sana. Sekarang jika saya lihat lagi ke belakang, saya rasa inilah pertama kalinya Tuhan mengenalkan pada saya tentang indahnya keberagaman.

Tulisan yang ber Italic adalah catatan yang  saya tambahkan saat saya membacanya lagi hari ini.

Dan ku hanya ingin mengenalmu..

Posted by rika on Nov 10, ’07 12:09 PM for everyone

Ya ampun…udah lama banget kayaknya pengen curhat tentang Mamasa dalam tulisan. Mudah2an yang sekarang tidak gagal maning.

Mamasa. Lebaran tahun ini sangat berbeda. Saya tidak melewatkannya bersama keluarga dengan segala keharuan, silaturrahim, opor ayam, ketupat, bagi2 angpau, dan hiasan2 lebaran sebagaimana mestinya. Tadinya, membayangkannya saja sudah sebal duluan! Lebaran2 disuruh kerja. Jauh pula tempatnya. Sulawesi Barat. Tapi sekaligus deg2an seneng juga sih…sepertinya seru juga merasakan lebaran di tempat selain rumah. Dan ternyata, lebaran kali ini memang luar biasa.

Saya tidak sekedar melewatkannya di kampung orang. Tapi lebih tepatnya lagi, di perkampungan Nasrani, dimana semua penduduknya beragama Nasrani! (ya iyalah…) Maksudnya, tidak satupun, garis bawah: tidak satupun penduduk desa Parondobulawan-Mamasa tersebut, yang katepe-nya beragama Islam dan akan merayakan Lebaran dalam beberapa hari mendatang.

Bahkan campers yg bareng sama saya, Beni, dan driver kami, Om Nyong, dua-duanya juga beragama Nasrani. Meski demikian, saya sama sekali tidak merasa terintimidasi. Bahkan sehari sebelum Lebaran, Om Nyong sendiri yang bilang, “Besok saya pergi antar Mbak Rika ke mesjid. Di desa sebelah ada mesjid. Tenang saja ya.” Lalu dengan becanda dia menambahkan, “Saya juga mau pake sarung dan peci. Ikut mbak Rika masuk ke dalam.” So sweet Ooom…. :)

Tidak hanya itu. Kontur perbukitan di Parondobulawan membuat sinyal hepe sama sekali tidak diterima dengan jelas di desa tersebut. Ada sih. Tapi harus naik gunung dulu. Itupun cuma Telkomsel. Dan hanya di satu area tertentu saja. Yang kalo pindah beberapa langkah aja, sinyalnya udah ngilang lagi. Ya ampiun…susahnya…! Katanya sih Indosat ada. Tapi entah dimana. Karena sampai pulang, saya belum pernah bisa menemukan areanya.

Akhirnya, di hari yang fitri itu, saya sama sekali gak bisa bermaaf-maafan dengan siapa pun. Tidak dengan ibu bapak saya, kakak2 saya, sepupu2 saya, teman2 saya, atau bahkan pacar saya (yaiya, karena emang gak punya). Ketika pertama kali bisa menelepon ke rumah, sehari setelah lebaran, kata2 pertama yang keluar dari mulut kakak saya adalah, “Rika! Masih hidup??”

Di Mamasa, saya menemui banyak hal yang di luar dugaan. Saya melihat segala sesuatunya dengan pandangan yang begitu berbeda. Satu yang paling membekas adalah, menurut saya, penduduk Parondobulawan yang semuanya beragama Nasrani tersebut sangat nyufi, lebih nyufi dari muslim kebanyakan. Maksudnya semangat keber-agama-an mereka tuh lebih kerena mereka cinta kepada Tuhannya. Bukan surga . Dan betapa lagu bisa jadi sarana yang efektif untuk mengungkapkannya. Duh..

Lagu2 Gereja ternyata banyak yang maknanya universal. Bagus-baguuuuus. Dan saya juga jadi hafal beberapa. Meskipun kebanyakan reffrainnya doang :p Para penduduk kampung tersebut kan pada jago2 nyanyi tuh. Jago main juk juga. Jadi sering dengar mereka nyanyi beraneka macam lagu rohani Nasrani. Ditambah Om Nyong dan Beni juga sering nyanyi di sepanjang perjalanan, baik di mobil maupun saat2 pendakian. Jadilah sedikit banyak saya terkontaminasi dalam arti yang positf yaaa. Hehe… Misalnya nih, salah satu lagu favorit saya:

Dan ku ingin mengenalMu Tuhan, Lebih dalam dari semua yang kukenal.. Tiada kasih yang melebihi Mu Ku ada untuk menjadi penyembahMu..

Baguuuus banget lagu ini.

Hmm…banyak lagi sih sebenarnya hal-hal baru yang saya temui selama di Mamasa. Memunculkan banyak pertanyaan dan kegelisahan2 yang butuh jawaban. Ah, jadi kangen Pak Gamesh, salah satu dari sedikit orang yang tidak menganggap aneh segala hiruk pikuk yang terjadi di otak homers saya ini.

Dan karena sudah mengantuk serta nyaris tengah malam, sebaiknya saya sudahi saja tulisan balas dendam ini.. Bahaya. Bisa melantur kemana-mana.

### Kesan saya saat membacanya setelah lima tahun kemudian…

Masih ingat suasana kekeluargaan mereka… Awalnya agak canggung juga karena saya muslim sendiri di tengah tengah semua penduduk yang beragama Nasrani. Apalagi saya memakai jilbab. Tapi bersyukur…eh, ternyata sambutan mereka cukup hangat dan tidak menganggap saya berbeda.

Masih ingat juga saat malam malam pertama saya tidur di rumah Pak RT. Rumah panggung yang beralaskan tanah. Kamar saya di bawah sedangkan yag lain di atas. Parahnya, tentu saja saya harus tidur sendirian karena dua orang teman liputan saya laki laki. PLN belum masuk di desa itu dan jika malam suasananya gelap sekali. Termasuk kamar saya. Hii… *Heran, kok dulu saya berani ya?

Dan saat kami direlokasi ke rumah lain yang lebih besar, saya masih ingat juga bagaimana saya tidak bisa tidur karena banyak celah diantara papan papan kayu di kamar yang saya tempati. Iklim di Mamasa sangat dingin (perbukitan gitu looh…), dan sepanjang malam saya selalu menggigil kedinginan. Benar benar menggigil sampai gigi gemeletukan!

Dan masih lekat di ingatan saya bagaimana saya yang baru pulang dari shalat Ied di masjid kampung sebelah, menyantap Indomi goreng sebagai hidangan lebaran. Kayaknya nelangsa sekaliii…lebaran lebaran makan Indomi T.T

Masih ingat juga bagaimana saya sembelit karena tidak tega untuk BAB di toilet nya yang back to nature. Dan bagaimana kami yang sudah terlalu lama shooting di desa itu bahkan membuat Om Nyong yang gahar sampai merasa homesick. Hehe.

Oooohhh…what a memory. What a liiifee…. I love my life…and I should to.

Ini dia beberapa gambarnya.

Bolang Parondobulawan

Om Nyong yang baik hati…

Mamasaaa….

Lemes dan pucat pasi sehabis mendaki…

Kok dulu aku kuat ya mendaki bukit yang lumayan terjal itu? Padahal saat itu puasa. Dan meskipun sudah ngos ngosan seperti hampir pingsan, aku menolak untuk membatalkan puasa. Waoow…*sambil kayang* Soalnya cuma ada air putih. Kalau ada es kelapa muda mungkin lain lagi ceritanya. Hehe…

Coba kalau sekarang, belum naik aja mungkin sudah batal duluan dengan alasan tidak boleh menyiksa diri. Apakah karena tubuh yang menua itu memang semakin manja *tapi kan aku tidak setua itu* atau jiwaku yang menjadi manja?

Dulu karena aku masih jomblo kali ya. Kalau mau pingsan dan sakit pikir pikir dulu. Gak ada yang merhatiin. Wkwkwk…

Kalau sekarang karena ada suami, ada yang dijadikan tempat bersandar. Cieeeh… Ibaratnya keseleo dikit aja minta gendong. Hihi… Itulah gunanya ada suami, bukan ^.^

Thanks Multiply. Sudah mengingatkan aku untuk menyalakan api kecil yang tak lagi membara karena kutiup sendiri. I should celebrate my life more often! And because i‘m with you now, abang, we should multiply the celebration :)

Multiplied *Makassara

Postingan (tentang postingan) lama (27 Nov 2012)

 

Salah satu sisa tulisan di Multiply… Bercerita tentang salah satu tempat favorit saya, Makassar. Makassar adalah tempat terjauh pertama yang saya datangi selama hidup saya. Karena bolang. Alhamdulillah. And I do Love Celebes. A lottt….

makassara

Posted by rika on Jun 27, ’07 9:52 AM for everyone

”Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama “Makassar”, yakni diambil dari nama “Akkasaraki Nabbiya”, artinya Nabi menampakkan diri”

 

Sejak saya kelas 3 sma, saya sudah kepengen pergi ke makassar. Gak tau ya kenapa. Pengen aja. Apalagi waktu itu pacarnya pipit (sahabat saya) orang makassar, dan dia punya penampilan yg good looking. Jadi deh saya menggeneralisir, kalo orang2 makassar pasti ganteng2 juga. hehe.. pikiran yang pendek. (dan norak) Maklumlah, masih sma..

trus seiring berjalannya waktu, saya jadi tau kalo di makassar (katanya) banyak tempat2 yang indah. pantai losari, akkarena, dkk. Jajanannya juga enak2. Jadilah saya makin pengen pergi kesana. Tapi kepengennya masih dalam tahap wajar sih. Gak sampe jadi obsesi. Apalagi terbawa mimpi.

 

Nah belum lama ini, beberapa waktu yg lalu, ada yang ngajakin saya pergi ke makassar. Gratis! Tinggal bawa rasa senang dan hepi aja. Wow!

Tapi karena mungkin bukan dengan orang dan waktu yang tepat menurut Tuhan, jadinya saya gak pergi..

 

Dan setelah sekian lama hanya ingin saja, ternyata keinginan saya sama dengan keinginanNya. Saya diijinkan pergi juga ke kota ayam jantan dari timur itu. Alhamdulillah.. gak nyangka deh. Ketemu orang-orang baru, tempat baru, makanan baru, pengalaman baru. “maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya..” Apalagi waktu telapak kaki saya menyentuh pasir putih pantai Bira. Saya langsung teringat lirik lagu the third eye blind,

 

“i beleive in the sand beneath my toes,

the beach gives a feeling an earthy feeling,

i beleive in the faith that grows..”

 

Dulu ini hanya bunyi saja bagi saya. Gak punya makna apa-apa. Tapi setelah di Bira, dengan pasirnya yg bener2 putih, dengan letaknya yg jauh dari habitat saya, saya kok jadi pengen nangis ya. Ini benar-benar sebuah kemewahan bagi saya. terima kasih Tuhan.. ah, jd sentimentil, kan.

 Trus…eh, ternyata memang terbukti, lho. Banyak tempat yang indah di sana (bagi saya sih ya..) Bukan hanya di makassarnya, tapi di daerah sekitarnya juga. Yang saya tau sih jalur makassar-bulukumba saja (soalnya bobolalangnya berasal dari kab.bulukumba). Bukit2 yang dulu pernah saya hayalin waktu pelajaran menggambar di es-de, ternyata benar2 saya liat ada di sana! tepatnya di sekitar bantaeng-jeneponto. Indah banget deh! Ada kuda2nya sedang merumput gitu… Yang bikin saya takjub, keindahan itu bukan ada di tifi, atau di luar negeri. Tapi ada disini, negeri kita sendiri, kita tinggal menikmati..(lho?? kok jadi lirik lagunya enno lerian waktu jaman kecil ya. hihi) Yah…sayanya aja kali yang norak. Belum banyak liat tempat2 bagus di negeri ini dengan mata kepala sendiri. Tapi beneran deh..saya jadi makin cinta sama indonesia. Aduh, jadi sok2 nasionalis nih..

 Sampe mana ya tadi? oh iya, banyak tempat indah di makassar.

Makanannya juga, meski saya belum banyak nyobain, tapi gak ada yang aneh2 di lidah. Dan bener juga, orangnya ganteng2.hehe..(astaghfirullah) Khas makassar, gitu. Meskipun hanya ada satu orang yg menurut saya paling cocok dikatakan ganteng. Namanya armawan (kalo dengan logat sulsel, jadinya mawang). Walopun masih 12 tahun, tapi udah berkarakter. Misalnya nih ya, kalo temen2nya yg lain suka latah (kalo ditawarin makanan atau nyobain apa2an aja), tapi si mawang ini beda. Kalo emang gak mau, dia akan menggeleng tegas dan berkata,”Saya tidak suka..” dengan mimik enggan dan logat sulselnya yang kental. Wah.keren. Masih kecil, gitu lho. Pasti ibunya orang hebat. Saya jadi tenang. Kayaknya kalo udah besar, dia juga gak akan gampang dibujuk untuk nyobain narkoba. Mudah2an aza..

 Over all, seperti kata Om Nyong, kapang ya bisa jalang-jalang lagi ke makassar

### Kesan saya setelah lima tahun dari tanggal penulisan…

Saya masih ingat bagaimana saya hampir menangis terharu saat menginjakkan kaki di pasir seputih Pantai Bira, ketika di atas perahu saya menyentuhkan jari saya di lautnya menuju Pulau Liukang Loe. Semuanya masih terasa sebagai kemewahan bagi saya. Alhamdulillah… Ini dia foto-fotonya…

Inilah Bira itu. Uwaa…maaff tidak ada foto lain lagi selain ini.

Moga-moga bisa kesana lagi. Aamiin… Btw, di foto itu saya masih awal-awal ikut liputan, tepatnya liputan kedua saya. Masih norak banget. Ke lapangan aja pakai baju rapih, pake rompi. Hihi…malu deh kalau ingat. Mana banyaaak lagi salah-salahnya. Haduh… nggak mau nginget bagian itu ah. Terus masih suka banci foto bangeeetttt. Tiap ada spot bagus, udah bingung ngeluarin kamera dan pasang gaya minta potoin Om Nyong. Hadeeh… Benar-benar reporter handal, mengutamakan foto-foto narsis daripada tugas liputan. -.-

Betewe, kalau ini Pulau Liukang Loe…

Biru lautnya elegan sekali. Ini lagi mendung jadi suasananya mellow…

Dan yang ini kembali narsis…. -.-

Mejeng di depan pesawat Sukhoi.

Di antara puing reruntuhan benteng Rotterdam.

Penari.

Bolang and all crew. Di halaman Fort Rotterdam.

Bolang Liukang Loe dan saya.

Multiplied*Across The Universe

Postingan (tentang postingan) lama (27 Nov 2012)

Ini adalah tulisan saya yang diposting di page Multiply nya sibolangku. Aaa…kalau begini jadi kangen liputan.

across the   universe Jun   17, ’08 4:53 AM  for everyone

“Mba Rika, saya kangen sama Mba Rika…”

Aduh…hati saya langsung runtuh mendengar kata-kata itu diucapkan oleh salah satu bolang kesayangan saya. Setelah pulang dari liputan Bolang Wawo ke kota kemarin, saya memang masih sering kangen dengan tuyul-tuyul itu. Maklum, 12 hari bukan waktu yang singkat untuk membuat kenangan. Apalagi mereka termasuk bolang-bolang TERKEREN yang pernah saya temui.

Saya berangkat ke Wawo bersama Ilham (campers papan atas gitu looh…) Dulu liputan bolang Wawo kampungnya juga bareng sama Ilham. Dan waktu itu kami udah bertekad, kalau suatu saat di-rolling ke wiken, mau bikin edisi si bolang Wawo ke kota-nya. Dan harus dibuat sebagus mungkin! Dan karena harus sebagus mungkin, makanya gak boleh dikerjain kalo reporternya bukan sama saya, atau campersnya bukan sama ilham. Nanti jadinya gak oke. Hahaha. Maaf ini bukan narsis, tapi posesif. Hihi… Kalau kamu pernah ngerasain chemistry yang kuat dengan para bolang yang pernah kamu garap, kamu pasti tau rasa gak rela-nya nyerahin mereka untuk dikerjakan oleh tangan yang lain. Even produser sekalipun. Hehehe.. Jadi harap maklum ya…

Akhirnya, begitu saya dan ilham dipasangkan lagi di bolang weekend, kami langsung memutuskan untuk mengambil Bolang Wawo! Biarin aja lah meski jadwal kami seharusnya pergi ke ”Kalimantan” sebagai tujuan. Kalo Wawo gak dikerjain sekarang, nanti keburu diambil yang laen! Huhuhu, ge-er.. Emang ada gitu yang berminat?

Ya kalau saya sih memang berminat sejak awal. Alasannya adalah, selain sabana NTB dan budaya mereka yang kuat, para jagoan Wawo ini oke banget! Salah satu kelebihannya, mereka sama sekali gak pernah ngeluh. Bilang sakit kalo pas lagi sakit perut memang iya (apalagi Riki yang hobinya buang air besar di segala suasana). Tapi ngeluh capek? Nggak pernah! Keren kan? Padahal tekanan yang kami alami saat liputan cukup berat.

Ujian pertama adalah off-road. Saya dan ilham memang memutuskan untuk menempuh dan membuat cerita lewat jalur darat. Alasannya, selain mau ngejual alam NTB, kami juga udah bertekad sejak awal, pengen dan harus bikin cerita selogis mungkin! Ayayayaaaaaa….kedengarannya indah dan idealis sekaliii…!

Sayangnya, idealisme itu jadi menyeret anak-anak dalam kondisi rough karena menuruti ‘ego’ kami. Oh, bolang-bolangku sayang, ampunilah kami… Tapi kan ini demi kekerenan kalian juga. Dan justru memang disitulah ke-Bolang-an mereka teruji.

Bayangkan saja, perjalanan off-road bima-bali itu, kalo di total, waktu tempuhnya sekitar 17 jam (jalur darat plus nyebrang laut dua kali!) Itu waktu normalnya ya. Sedangkan kami, masih harus ditambah lagi dengan suting di sela-sela perjalanan panjang itu. Bukan sekedar liburan dan leha-leha. Orang dewasa saja pasti butuh stamina fisik dan mental yang kuat, apalagi anak-anak es-de seusia mereka! Ya nggak siiiiiiih?

Tapi coba dengar apa yang dikatakan Si Bolang pada Bu Narni, guru pendampingnya: “Ibu, saya senang sekali bisa diajak ke kota. Bisa pergi jauh. Kalau saya tidak jadi Bolang, mungkin saya tidak bisa naik kapal laut,” cerita Bu Narni sambil berkaca-kaca waktu menranslate-kannya dalam bahasa Indonesia pada saya. Duh…

Lalu masih ada lagi ujian kedua, ketiga, dan seterusnya, tapi mereka tetap melaluinya dengan tabah. Hihi….trip kemaren emang banyak cobaan. Salah satunya adalah ngerasain terlunta-lunta di bandara karena ketinggalan pesawat!!* Tapi justru itulah yang bikin liputan ini lebih berkesan. Sengsara membawa nikmat. Huahaha…! Gak juga ding. Sengsara mah sengsara aja. Hiks..hiks..

Alhamdulillah-nya itu tadi. Anak-anaknya tahan banting. Gak kebayang deh kalo perginya sama anak-anak yang cengeng. Anak-anak Wawo ini: YAINULLAH, TRIS HERMANTO, RIKI CHANDRA, ALIMUDIN dan DANDI bisa tetap hidup dalam masa-masa sulit (heeeei! Lihat ini! Nama kalian terpatri disinii…!!). Mereka bisa tetep semangat, bisa tetep ekspresif di kamera, bisa tetep ngegombalin saya sampai akhir liputan. Hehehe…. Iya. Mereka—terutama Dandi—suka bilang kalo saya cantik. Hihi… Mereka juga sering ngegombalin si Ilham. Meskipun setelah dipaksa. Hahaha…bcanda Ham!

Mereka suka muji-muji ”mbak rika cantiik..” atau ”mas ilham ganteeng..” dengan dialek khas mereka (pelafalan ”e” nya seperti dalam kata ”dendeng”). Trus suka niruin gaya Ilham kalo pas lagi ngambil gambar. ”Jangan liat kamera ya!” atau ”Tunggu matahaaa….ri!” Sehingga kemudian mencetuskan cita-cita baru bagi mereka: kalau sudah besar saya ingin jadi seperti mas Ilham! Huu… Meskipun kalo bagi Dandi sih tetep, ingin jadi seperti Mbak Rika. (Oh i love you Dandii…!)

Tapi bukan berarti mereka gak nyebelin ya. Kalo pas lagi kumat nakalnya….uuuugh…rasanya pengen jitakin mereka aja satu-satu sampe pada benjol!! Mumpung gak ada orang tuanya. Untungnya saya masih ingat sama ponakan-ponakan saya di rumah. Jadi yaa…sabar deh, sabaaaaaar… Itung-itung latian kalo udah beranak nanti.

Saya jadi ingat, satu waktu, dengan campuran nada kagum dan prihatin, Om Nyong pernah bilang di Mamasa, ”Jadi kru Bolang itu tidak gampang ya. Harus bisa sabar-sabar dia punya hati.” Saya cuma tersenyum kecil menanggapi komentar itu. ”Kalau saya mbak, yang jadi kameramennya,” lanjut Om Nyong dengan nada meninggi, ”ANAK-ANAK ITU PASTI SUDAH SAYA LEMPAR PAKE KAMERA!” Hahaha..

Anyway, pada akhirnya, Bolang kesayangan adalah masalah yang sangat subyektif bagi tiap kru, atau bahkan penonton di rumah (yang kebetulan kampung halamannya sama, atau anaknya kepilih jadi Bolang). Dan kebetulan, saya punya banyak alasan untuk menjadikan Bolang Wawo sebagai salah satu Bolang ter-favorit saya sepanjang masa. Itu saja.

* Thanks to Ira-Rama yang mengenalkan Pak Darwis pada kami

### Kesan saya saat membacanya sekarang, lebih dari 4 tahun kemudian…

Alhamdulillah ya Allah…boleh berkeliling negeri saya tercinta Indonesia. Boleh melihat-lihat banyak keindahan alam dan orang orangnya. Saya bukan perekam memori yang baik, jadi bersyukur sekali masih ada tulisan ini yang bisa mengingatkan saya tentang keindahan itu. Coba ya saya lebih rajin lagi menulis saat masih liputan dulu, pasti lebih banyak yang bisa saya kenang. Huhu…baru nyesel deh sekarang.

Aniwei…waaoow…saya pernah melalui perjalanan darat selama 17  jam ya ternyata. Hahaha…lumayan juga. Jadi kangeeeeen NTB. Sabana NTB is the best. Sayang sekali foto fotonya banyak yang tidak tersimpan di laptop ini. Yang saya upload adalah foto lama saat pertama kali saya liputan weekdays ke NTB.

Foto di perjalanan saat mobil berjalan… Maaf kamera dan teknik memotret saya tidak memadai :(

Masih foto sembari jalan.

Kalau ini bukan di Bima, tapi di Sembalun, masih NTB juga tapi di Pulau Lombok-nya. Sembalun adalah salah satu jalur pendakian ke Gunung Rinjani. Wiihh…siapa yang tidak jatuh cinta dengan alam secantik ini T.T

Kangeeeeen juga sama tuyul tuyul itu. Apa kabar ya mereka? Terakhir saya sempat berhubungan dengan Ibu Narni sekitar 2 tahun yang lalu kalau ga salah, saat Bima dilanda gempa, tapi alhamdulillah mereka semua sehat-sehat saja.

Riki, salah satu Bolang Wawo yang mirip Harry Potter :)  Background-nya adalah lumbung padi para penduduk desa. Keren ya.

Rimpu Girls. Rimpu adalah gaya menutup kepala khas wanita Bima.

Kapan ya bisa ketemu mereka lagi…

And I think from now on, I have to write more, and more.