Tafsir Al Mishbah [Selasa, 16 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Surat Hud 61-68

Kisah Nabi Shalih.

Manusia tercipta dari unsur-unsur tanah. Apabila kita perhatikan, sperma dan ovum yang menjadi cikal bakal manusia terbentuk dari makanan yang kita makan. Sedangkan makanan kita kesemuanya tumbuh dari tanah (unsur hewani dalam makanan kita pun pada dasarnya memakan tumbuhan). Jadi sebenarnya unsur-unsur manusia mengandung semua unsur-unsur yang ada pada tanah.

Allah menugaskan manusia untuk mengolah dan memakmurkan bumi agar mereka bisa hidup nyaman di atas muka bumi.

Jika Allah menugaskan suatu makhluk, pasti makhluk tersebut sudah dianugerahi potensi untuk melakukannya. Begitu juga saat menugaskan manusia, Allah sudah memberi potensi untuk menjadi pemakmur bumi. antara lain: memiliki inisiatif. Mengapa bukan malaikat yang diutus menjadi khalifah? Karena malaikat tidak memiliki inisiatif seperti manusia, mereka hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja. Contohnya, manusia terpikir untuk melakukan penyilangan tumbuhan. Malaikat kayaknya tidak mungkin membuat yang demikian 🙂

Sebelum turun ke bumi, manusia (Adam) ditempatkan di surga terlebih dahulu. Mengapa? Supaya memiliki pengalaman dan bayangan bagaimana membangun bumi. Di surga banyak makanan, tempat tinggal, hal-hal yang indah, damai, sentosa, bikinlah yang semacam itu di bumi. Jadi surga menjadi prototype dalam membangun bumi.

Orang yang mengambil inisiatif pasti pernah berbuat kesalahan. Kalau berbuat salah, cepat mohon ampun pada Allah kemudian berbuat baik untuk menghapus keburukan yang kita lakukan.

Tuhan dekat dan menjawab doa.
Qariib atau dekat artinya: dekat bantuannya kepada orang yang baik, dan dekat dengan pengetahuan manusia kepadaNya.
Sedangkan Mujiib adalah mengabulkan permintaan makhlukNya.
Suatu ketika ada yang bertanya pada Nabi, “Yaa Nabi, Tuhan itu dekatkah atau jauh? Jika jauh, saya akan berdoa dengan berteriak supaya Tuhan bisa mendengar saya.” 🙂
Nabi menjawab, “Berdoalah dengan suara lirih, karena Tuhan itu dekat dan mengabulkan permintaan.”

Bukti kenabian /mujizat Tuhan untuk para Nabi disesuaikan dengan kondisi umatnya. Umat nabi Shalih adalah seniman, pandai memahat batu. Sehingga mujizat Nabi Shalih pun berhubungan dengan seni pahat. Beliau memahat batu karang menjadi unta, dan dengan ijin Allah menjadikan unta tersebut menjadi makhluk hidup.

Nabi Shalih sudah memeringatkan umatnya agar tidak mengganggu unta tersebut. Akan tetapi mereka malah menyembelihnya dengan kejam.

Dalam ayat di Surat Hud disebutkan bahwa “mereka menyembelihnya”, artinya yang menyembelih unta tersebut adalah orang banyak.  Sementara di ayat lain dikatakan bahwa seseorang menyembelihnya.
Apa maksud dari perbedaan redaksi ini? Bahwa sebenarnya yang menyembelih satu, tetapi yang menyetujui banyak.
Artinya jika ada orang yang berbuat buruk dan kita menyetujuinya, maka kita ikut bertanggung jawab memikul keburukan tersebut.

Kedurhakaan yang dilakukan umat Nabi Shalih sudah melampaui batas sehingga Tuhan menghukum mereka. Nabi Shalih memberi mereka tenggat waktu selama tiga hari untuk bersenang-senang. Setelah itu turunlah siksa Tuhan berupa suara yang teramat keras mengguntur yang menyebabkan mereka jatuh mati bergelimpangan.


Pertanyaan pemirsa

Bagaimana caranya agar anak mengerti dan mau menjalankan perintah-perintah agama?

Mengenalkan Tuhan pada anak-anak harus dengan cara-cara yang persuasif, diantaranya:
– Tanamkan pada jiwanya kecintaan pada Tuhan. Jangan takut-takuti dengan siksaan Tuhan, melainkan gambarkan pada anak-anak bahwa ada kekuasaan Maha Dahsyat di alam semesta ini yang sangat baik dan penuh kasih sayang.
– Berikanlah perumpamaan bahwa shalat itu ibarat makanan. Kita membutuhkannya untuk tetap hidup.
Apakah setelah kita bertaubat, doa kita pasti akan terkabul?
Allah menjanjikan akan mengampuni siapa yang berdoa dengan tulus dan beristighfar dengan benar. Tetapi…….jangan juga beranggapan bahwa istighfar dan doa kita pasti diterima. Belum tentu. Karena itu tetaplah memohon ampun.

Apabila kita sudah beristighfar dan Allah mengampuni, kemudian kita tetap melanjutkan istighfar kita, maka istighfar berikutnya itu dicatat sebagai amal kebaikan kita.

Manusia diberi potensi untuk memiliki inisiatif, meskipun terkadang tidak benar. Apakah itu berarti Allah mengijinkan manusia berbuat salah?
Selama niatnya baik dan tulus kemudian dia beristighfar, maka Allah Maha mengampuni kesalahan. Bukankah banyak manusia yang menemukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dari proses trial and error?
Apakah semua manusia potensinya sama?
Manusia berbeda-beda bakatnya, agar mereka bisa bekerja sama membangun bumi. Ada yang kecenderungannya bekerja, ada yang berdakwah, ada yang menyenangi kesenian, ada yang senang berpikir, bermacam-macam. Yang penting berusaha untuk memberikan manfaat dan bisa saling bekerja sama. Allah yang paling tahu tentang keseimbangan.
Apabila ada perbuatan yang buruk, bagaimana sikap kita seharusnya? Apakah harus melawan, atau dengan tidak setuju saja sudah cukup?
Perhatikan situasi dan kondisinya. Adakah wewenang kita untuk melakukan tindakan?
Misalkan ada seorang anak yang melakukan kesalahan di rumah orang tuanya sendiri. Kita melihatnya dan kemudian anak tersebut kita tampar. Orangtuanya pasti marah, karena itu bukan wewenang kita. Contoh yang lain adalah main hakim sendiri terhadap pencuri, padahal seharusnya kita bawa kepada Polisi sebagai pihak yang berwenang.

Jadi kalau ada perbuatan buruk yang kita tahu, lakukanlah sikap melawan dari yang terendah baru meningkat menuju yang tertinggi. Misalnya dari melotot dulu. 🙂 Jika dipelototi tidak mempan, baru menasihati (sesuai kemampuan). Jika dinasihati masih tetap berbuat buruk, kita bisa mengancam. Kalau masih juga tidak mempan, apabila berada dalam wewenang kita, kita bisa langsung menindaknya, tetapi jika bukan, kita bisa laporkan kepada pihak yang berwenang.

Islam menghargai budaya dan tradisi, selama tradisi tersebut baik dan sejalan dengan tuntunan agama silahkan dipertahankan.

Kesimpulan:

– Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur bumi. Dia dapat tugas sebagi pemakmur bumi sebagimana yang Tuhan kehendaki.
– Dalam membangun bumi tidak jarang terdapat kesalahan dan pelanggaran. Tetapi Allah akan mengampuni selama kita tulus memohon ampunanNya.
– Tuhan maha mendenagr dan dekat, sehingga tak perlu bersuara keras yang mengganggu orang lain. Kadang tanpa meminta pun Tuhan sudah tahu keinginan kita.
– Kaum Nabi Shalih, baik yang menyembelih dan menyetujui, semuanya mendapatkan sangsi. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak berkompromi dalam keburukan.

Advertisements

Tafsir Al Mishbah [Senin, 15 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Pembahasan episode hari ini adalah Surat Hud 50-60

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah nabi Hud dengan kaumnya:
Jika ada orang lain berbuat salah tapi kita diam saja, kita bisa terkena tangggung jawab (mengapa tidak memperingatkannya, baik secara lisan maupun perbuatan, atau minimal hati yang tidak rela). Jika kita sudah menasihati berkali-kali tetapi orang tersebut tidak mau berubah dan tetap melakukan kesalahannya, maka kita serahkan saja pada Allah. Ya Allah, saksikanlah bahwa aku sudah memperingatkan mereka tetapi mereka tidak mau berubah. Maka aku serahkan mereka padaMu.
Hal ini juga mengajarkan pada kita untuk bertawakkal kepada Allah sesudah berusaha.

Tidak ada satu makhluk pun yang bernyawa yang tidak Allah pegang ubun-ubunnya (Allah berkuasa atas semua makhluk Nya). Tetapi Allah juga memberikan jalan yang lebar pada manusia (pilihan), sehingga mereka diberi kesempatan untuk berusaha sesuai kemampuannya.

Pada ayat 50:  Dan ketika ketentuan kami telah datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami. Kami selamatkan pula mereka di akhirat dari azab yang berat.
Tuhan menyebutkan 2 kali kata selamat dan 1 kali kata azab. Hal ini menandakan bahwa Tuhan lebih mendahulukan rahmat dan kasih sayang daripada murkaNya.
Tuhan itu pada prinsipnya  (menurunkan) rahmat. Jika Tuhan menyiksa, itu dikarenakan kesalahan manusia itu sendiri.


Penjelasan Pak Quraish Shihab tentang pertanyaan pemirsa.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya mengakui kesalahan tanpa merasa malu dan gengsi? 

Jawaban Pak Quraish:
Mengakui kesalahan tidak menurunkan martabat
.
Pada dasarnya kesalahan itu ada dua, kesalahan kepada manusia, dan kesalahan kepada Allah.

Jika kesalahan itu berhubungan dengan Allah, orang lain tidak perlu tahu. Cukup sampaikan langsung permintaan taubat kepada Allah.

Jika berhubungan dengan orang lain, maka kita memang harus meminta maaf pada orang yang bersangkutan. Namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan, ada berbagai cara yang lain yang bisa ditempuh. Misalkan dengan mengakuinya pada sebuah majelis tentang kesalahan berpikirnya, “Tadinya saya kira si Ali itu pelit, ternyata baiknya luar biasa.”
Atau jika kita sudah tidak bisa menjumpai orang yang bersangkutan (karena meninggal atau tidak pernah bertemu lagi), kita bisa memohon pada Allah. Ya Allah tolong ambil alih permasalahan ini dan aku memohon ampunanMu.

Pertanyaan:
Apakah orang yang memohon ampun atas kesyirikannya, dia tidak diampuni? Sebab Allah mengatakan dalam Al Quran bahwa Beliau mengampuni semua dosa kecuali syirik.

Jawaban Pak Quraish:
Yang tidak diampuni Allah itu apabila ia meninggal dalam keadaan syirik. Jika orang tersebut itu masih hidup, maka Tuhan masih mengampuni selama taubat yang dilakukan secara tulus dan bersungguh-sungguh.
Kita bisa berkaca pada sahabat Nabi. Pada awalnya semua sahabat adalah musyrik karena menyembah berhala. (Kecuali syd Ali, beliau mendapat julukan “Karamallahu wajhahu”-wajah yang dimuliakan Allah- karena tidak pernah menundukkan wajahnya pada berhala). Tetapi para sahabat Nabi yang tadinya musyrik kemudian bertaubat dan berjuang untuk Islam, memiliki kedudukan yang mulia baik di sisi Nabi maupun Allah.
Kesimpulannya, selama kita masih hidup dan bertaubat (nasuha), maka terbuka kemungkinan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita, bahkan dosa syirik. Tetapi jika kita meninggal dalam keadaan syirik, dosa tersebut tak terampuni.
Lalu bagaimana dengan dosa-dosa selain syirik yang terbawa mati? Masih ada kemungkinan bagi Tuhan untuk mengampuninya. Meskipun demikian kita tidak boleh meremehkan hal tersebut.

Pertanyaan:
Apakah manusia makhluk paling sempurna?

Jawaban Pak Quraish:
Di Al Quran tidak pernah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Hanya disebutkan bahwa manusia lebih dimuliakan dan ditinggikan kedudukannya dari banyak makhluk yang lainnya.
Pada dasarnya Tuhan menciptakan semua makhluk sempurna, sesuai dengan tujuan penciptaannya masing-masing. Manusia diciptakan sempurna untuk mengelola bumi (khalifah). Malaikat diciptakan semuprna untuk taat pada Tuhan. Setan diciptakan sempurna untuk menggoda manusia.
Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan agar kita mengambil pelajaran bahwa yang hasil ciptaan itu sifatnya berpasangan, sedangkan Pencipta itu Tunggal.

Tuhan itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Islam tidak menghalalkan cara yang buruk demi tujuan yang baik. Misalnya mencuri untuk pergi haji.


Kesimpulan

– Jika ingin tenang hilangkanlah segala dendam dan amarah. Bina hubungan yang baik dengnan Allah dan makhlukNya.

– Kalau ada yang melakukan kemungkaran, tidak boleh diam saja. Cegahlah dengan lisan, tindakan, atau minimal ketidak-relaan hati.

– Berserah diri setelah usaha maksimal merupakan keharusan. Serahkan pada Allah tentang keputusannya.

– Allah menyediakan jalan lurus yang lebar untuk ditempuh para makhluknya. Karena itu tidak mungkin Allah menzalimi makhlukNya.

– Mengingkari satu rasul, sama dengan mengingkari semua rasul.

Tafsir Al Mishbah [Minggu, 14 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)
Surat Hud 36-49

Dalam doa naik kendaraan terdapat kalimat “Inna rabbi laa ghafuururrahiim” (Sesungguhnya Engkau wahai Tuhanku, Maha Pengampun dan Penyayang). Mengapa berdoa demikian?
Karena ketika sudah di atas kendaraan banyak orang yang sudah merasa aman. Merasa bahwa ia yang punya kemampuan menjalankan kendaraan dan pasti akan tiba dengan selamat di tujuan. Karena itu kita diajarkan untuk memohon ampun pada Tuhan karena kesombongan tersebut.

Situasi yang paling mencekam dalam kehidupan Nabi adalah pada saat beliau berdakwah di Thaif. Ketika itu Nabi diusir, diejek, dimaki-maki, dilempari batu oleh anak-anak. Nabi sangat sedih. Selain itu beliau juga dalam kondisi kelaparan. Kemudian datanglah Jibril dan menanyakan pada Nabi, jika beliau mengijinkan, Jibril siap menimpakan gunung pada kaum Thaif yang telah durhaka dan menyakiti hati Nabi tersebut.
Apa jawaban Nabi? Beliau berkata jangan. Nabi masih berharap agar ada anak cucu mereka kelak yang akan berbuat baik dan mendapat hidayah.
Salam ‘alaika wahai Nabi yang berhati lembut. Semoga kami bisa mengikuti teladan itu.

Kisah ini mengajarkan pada kita umat Nabi Muhammad untuk tidak mendoakan keburukan bagi orang lain. Sebab selalu akan ada harapan untuk kebaikan. Terlebih lagi apabila ada orang berdoa, malaikat pun ikut mendoakan orang tersebut:  Ya Allah kabulkanlah doa orang ini dan berilah juga padanya sebagaimana yang dia doakan untuk orang lain.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya untuk menjaga anak kita agar selamat duna akhirat?

Pak Quraish menceritakan tentang seorang ibu yang mempunyai anak 12 orang,  dan semuanya menjadi orang yang berhasil. Saat ditanya apa rahasianya, ibu tersebut mengatakan ada dua hal yang selalu dijaganya:
1. Tidak pernah memberi anaknya dengan makanan haram.
2. Apabila anaknya nakal, tidak pernah mengutuk (dasar anak nakal!) tetapi mendoakan dengan kebaikan.

Pernah suatu ketika cucu Nabi yang masih kecil mengambil kurma zakat dan menaruhnya di mulut. Orang yang berzakat tidak mempermasalahkannya dan justru merasa gembira karena bisa menyenangkan cucu Nabi. Tetapi Nabi tidak diam saja. Beliau mengeluarkan kurma tersebut dari mulut cucunya, sebab itu bukan haknya. Pelajaran yang bisa diambil: menjaga anak-anak sedini mungkin dari hal-hal sekecil apapun yang bukan hak nya.

Kalau anda mendengar sesuatu yang buruk dari orang lain, jangan buru-buru menganggapnya buruk. Bisa jadi penyampainya yang salah menyampaikan maksudnya. Jangan lekas menuduh. Cari dulu kemungkinan-kemungkinan baiknya.
Begitu juga saat Islam disalah-pahami. Bisa jadi ini kesalahan kita sebagai Musim bahwa kita belum memberikan perilaku yang baik di masyarakat.


Kesimpulan:

* Manusia tidak boleh putus harapan
* Allah tidak akan membinasakan suatu kaum kecuali sudah benar2 terputus dari jiwanya benih2 kebaikan
* Anak baru sadar nasihat orang tuanya benar ketika dia sampai pada usia orangtuanya
* Dalam hidup carilah kedamaian. Menuju pada Tuhan yang Maha Damai.

Tafsir Al Mishbah [Sabtu, 13 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Hari ini terlambat menonton lagi (:p)

Pointers:
* Beragama harus tulus. Tidak ada gunanya beragama karena paksaan.

* Hidayah datangnya dari Allah, tapi Allah tidak akan memberi kecuali seseorang itu mau

* Kepercayaan umat para Nabi terdahulu, salah satunya umat Nabi Nuh: kekuatan alam berasal dari berhala yang mereka sembah. Apabila mereka tidak menyembah berhala tersebut, maka mereka mendapat siksa. Itu sebabnya Nabi Nuh datang berfokus membawa  peringatan, bahwa kekuatan alam yang sebenarnya adalah milik Tuhan. Tuhan lah yang berhak disembah dan Tuhan pula yang sanggup menurunkan siksaan. Apabila mereka tetap menyembah berhala, maka Tuhan dapat menurunkan siksaan terhadap mereka.

* Mengapa pengikut pertama-tama para Nabi kebanyakan adalah orang-orang yang miskin dan terpinggirkan?
Karena para Nabi datang membawa konsep keadilan. Bahwasanya Tuhan memandang manusia sama kedudukannya. Tuhan yang diajarkan dalam agama adalah Tuhannya orang kaya dan orang miskin, bukan cuma orang kaya saja. Sehingga orang-orang kaya yang sombong mengingkari kenyataan bahwa kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang miskin diantara mereka, sedangkan orang-orang miskin menjadi bangkit kesadarannya oleh kebenaran ajaran yang dibawa oleh para Nabi.

* Kepada anak-anak, biasakan untuk mengisahkan sejarah. Sejarah nabi-nabi, pahlawan-pahlawan, dan cerita-cerita baik lainnya. Karena itu sebagai orang tua harus terus belajar. Jangan sampai terlewat satu hari pun tanpa belajar.

* Sabar dalam mengajarkan agama: tidak mempan cara satu, pakai cara yang lain.

Tafsir Al Mishbah [Jumat, 12-07-2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Hari ini terlambat menyalakan internet dan cuma menonton separuh tayangan. Berikut yang bisa terangkum dari Al-Mishbah Surat Hud ayat (in syaa Allah) 15-24

Salah satu penonton di studio bertanya, “Apa yang menyebabkan amal-amal baik kita menjadi terhapus dan sia-sia?”

Beliau menjawab bahwa ada sejumlah hal yang menyebabkan kita merugi di akhirat nanti. Salah satunya seseorang yang mengiringi sedekahnya dengan kata-kata yang menyakiti hati si penerima. Allah menjadikan amalnya terhapus seperti debu yang menempel di batu, kemudian tersiram hujan deras. Licin tak bersisa.

Berikutnya Pak Quraish menyebutkan hal yang tampaknya remeh tapi sangat mendasar. Apa itu? Tidak ikhlas.
Bagaimana tidak ikhlas bisa menghapus kebaikan? Pak Quraish memberi contoh;

Jika saya bekerja di (katakanlah) Perusahaan A, bisakah saya meminta upah pada Perusahaan B? Begitu juga dengan Allah. Jika seseorang beramal bukan karena Allah, bagaimana bisa ia meminta ganjarannya pada Allah? Wajar kalau kemudian Allah menjadikannya bagai debu yang berterbangan, tak ada artinya. *Makjleb banget.

Pertanyaan berikutnya, dalam satu ayat dinyatakan bahwa mereka yang menghalangi jalan Allah dan menghendaki jalan itu menjadi bengkok adalah orang yang tidak percaya kepada hari akhir. Mengapa disebutkan tidak percaya kepada hari akhir dan bukannya tidak percaya kepada Allah?

Karena, jawab Pak Quraish, percaya atau tidak kepada hari akhir memberi pengaruh yang besar pada kegiatan dan perilaku seseorang saat ini. Bagaimana bisa begitu?

Contohnya kalau kita kenal dengan A dan yakin bahwa besok dia bisa memberi manfaat untuk kita ataupun membuat kita celaka, kira-kira apakah kita akan berlaku baik padanya? Tentu saja.
Namun jika kita kenal A hanya untuk hari ini dan tahu bahwa besok dia pasti pergi tanpa bisa mencelakakan atau memberi manfaat apa-apa, apakah kita akan memperlakukan dia sebaik-baiknya? Kebanyakan kita tidak akan peduli.

Begitu juga manusia.
Manusia yang menghalangi jalan Allah dikatakan tidak percaya hari akhir, karena ia tidak berpikir perbuatannya akan dibalas suatu saat nanti. Tetapi bagi yang percaya hari akhir, maka dia yakin perbuatan buruknya pasti dibalas. Jika tidak dibalas di dunia, dia akan dibalas di akhirat.
Orang yang percaya hari akhir itu memiliki harapan untuk mendapat balasan kebaikan, sekaligus rasa takut dibalas keburukan. Sedangkan orang yang tidak percaya hari akhir berpikir bahwa kehidupan hanya berlangsung sekarang, disini. Inilah yang membedakan perbuatan seseorang yang percaya pada hari akhir dengan yang tidak.

Kenabian Muhammad itu dapat dilihat dari tiga hal:

– kepribadiannya yang mulia

– mujizat terbesar yaitu al Quran

– berita kedatangannya yang tersebut dalam kitab-kitab terdahulu

Tuhan senang kalau kita meminta.
Al Kariim, yang termasuk dalam nama-nama indah Allah, salah satu aspeknya adalah “kecewa” kalau kita tak minta pada Allah. Karena itu mintalah kepadaNya. Banyak-banyakpun tak jadi soal bagi Allah.

Meminta itu terkadang ada yang diucapkan, terkadang hanya perilakunya yang menunjukkan. Analoginya pengemis. Jika ada orang yang bajunya lusuh duduk bersimpuh di trotoar, kita akan memberinya uang meskipun dia tidak meminta secara langsung. Mengapa? Karena sikapnya sudah menunjukkan kalau dia meminta.

Hadits: siapa yang hatinya disibukkan mengingat Allah, maka Allah akan memberikan yang lebih hebat dari yang dia harapkan.

Kesimpulan:

* Silahkan kumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, tapi jangan lengah pada akhirat.

* Seseorang yang beramal tetapi tidak ikhlas, maka perbuatannya sia-sia. Boleh jadi dia dapat kebaikan, tapi hanya di dunia.

* Jangan kira orang yang kafir langsung buruk kehidupannya. Bisa jadi dia kaya raya dan mendapat banyak kenikmatan dunia. Mengapa Tuhan tetap memberinya kesenangan padahal dia durhaka? Pertama karena sifat kasih sayang Allah. Kedua, karena harta dunia itu tidak ada artinya di sisi Allah.

[Berani Cerita #19] Balada si Rangga

“Berhenti!!” Mira menghadang Rangga. Matanya melotot marah.

“Eh..Ta..Tante Mi…Mira??” Rangga tergeragap, syok dengan kemunculan Mira yang tiba-tiba saat dia sedang menyeberang bersama Nindi.

“Ooh…jadi seperti ini kelakuan kamu, Rangga! Ha?” Mira bergantian menatap Rangga dan Nindi dengan sengit.

“Lho, Tante ini siapa ya? Kok marah-marah, sih? ” Nindi menatap Mira curiga.

“Kurang ajar!” alih-alih menjawab Nindi. Mira mendorong bahu Rangga dengan keras.

Nindi memekik melihat Rangga terjatuh. Tas-tas belanjaan merah bertuliskan “Metro” terlepas dari kedua tangannya. Keberadaan mereka di tengah zebra cross mulai jadi tontonan orang.

“Bu…bukan begitu, Tante. Saya bisa jelaskan semuanya, Tante,” Rangga mencoba bangkit.

“Nggak perlu ! Mataku sudah menjelaskan semuanya!”

Bugggh!!

Satu pukulan mendarat di perut. Rangga terpental ke aspal.

“Rangga!!” Nindi menjerit tapi tak bisa berbuat apa-apa. Nyalinya menciut melihat perempuan separuh baya bertubuh gempal itu merobohkan Rangga. Orang-orang mulai datang berkerumun sementara mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klaksonnya.

“Ampun Tante…ampun…” Rangga berusaha melindungi dirinya sambil meringkuk.

Melihat Rangga pasrah, Mira menyurutkan pukulannya.

“Ayo bangun!”

“Ampun, Tante…” Rangga mulai terisak.

“Pakai nangis segala. Kamu pikir aku bakal kasihan? Nggak usah banyak gaya deh. Kembalikan uang anakku!” Mira mendelik galak sambil berkacak pinggang.

“Saya belum ada uang, Tante…” Rangga memelas.

“Ooh…belum ada uang??!” Mira mengambil tas-tas belanjaan yang tadi terjatuh kemudian menumpahkan isinya ke tubuh Rangga. Baju-baju dan sepatu pria, beberapa make up dan asesoris wanita, serta bra dan celana dalam warna-warni berjatuhan di sekitar Rangga. Terdengar suara cekikikan dari beberapa orang yang berkerumun.

“Belanjaan akuuuh…” Nindi mengerang nelangsa melihat adegan itu.

“Buat belanjain cewek, ada. Buat bayar hutang enggak ada. Huh!” Mira bersiap-siap dengan tendangannya.

“Ampun…ampun..Tanteee…” Rangga langsung sigap melindungi lagi tubuhnya. Alih-alih menendang, Mira mengalihkan pandangannya ke arah Nindi. Nindi mengerut.

“Pacarmu ini merengek-rengek pinjam uang ke Soni, anakku. Alasannya buat buka usaha.” Mira menunjuk-nunjuk Rangga dengan geram. “Anakku yang baik itu sampai jual motornya buat bantu pacar kamu ini. Nggak taunya buat foya-foya. Itu duit anak saya yang dipakai buat beli bedak kamu. Tau kamu!” Mira ganti menunjuk-nunjuk muka Nindi.

“Anak saya panas-panasan naik angkot, pacar kamu enak ya ngadem di Pondok Indah!” Mira berbalik ke arah Rangga dan melepaskan tendangannya ke perut Rangga dengan kesal. Rangga mengaduh.

“Berapa dia pinjam ke anak Tante?” Nindi memberanikan diri bertanya.

“Seharga motor mio!”

Nindi terkejut kemudian beringsut menghampiri Rangga.

“Kamu, ya! Kamu bilang ga ada uang! Bilangnya temen kamu ga ada yang mau pinjemin! Aku sampe nangis-nangis ngebujuk Papi demi kamu. Kamu kan tau Papi aku peliiiitt! Aku rela uang sakuku dipotong. Rela ga bawa mobil dulu. Tegaaa kamu Rangga! Balikin semuanya pokoknya! Semua yang aku keluarin buat kamu! Nonton, makan, baju-baju ini, semuanyaaa!” Nindi memukul-mukul Rangga kalap dengan tasnya.

Mira melongo.

banner-BC#19

Jumlah kata: 437

#Prompt 20: Lelaki Tak Terkalahkan

ahermin18_large

source

“Pergi kau!”

Agung diam, membiarkan Ratri menumpahkan emosinya.

“Kau telah membuatku malu di depan suamiku!”

Brak.

Agung masih diam, matanya memejam.

“Aku tak pernah menyakitimu, kan? Tapi kenapa ini balasannya? Kenapa kau malah menampakkan diri di depan suamiku? Hah?”

Brak.

Bruk.

Hening.

……

“Mas,” Ratri memanggilnya. Agung membuka mata.

“Laba-labanya sudah kubunuh dan kubuang ke luar. Kamar mandi sudah aman,” Ratri tersenyum manis dan mengelus punggung Agung lembut.

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Aku mandi dulu.”
Jumlah kata: 83
Tulisan ini disertakan dalam prompt challenge #19 yang diadakan oleh Monday Flash Fiction dengan tema “Lelaki”.
MFF LogoBanner_zpse37327dd

Juliana Febriana Fitria

Fitria, murid saya di SD Gratis Al-Iman terkenal sebagai “tukang bolos”. Sehari masuk, tiga hari bolos. Tiga hari masuk, seminggu bolos. Kalau ada lomba membolos, barangkali dia pemenangnya.

Ketika akhirnya Fitria masuk, saya melihatnya sebagai anak yang pendiam. Silent. Sangat silent. Kalau ditanya hanya menggeleng dan mengangguk. Atau mengeluarkan suara yang mungkin tak sampai keras untuk didengar telinganya sendiri. Seandainya hape, mungkin yang aktif hanya vibrasinya saja. Tanpa nada dering. Tak berbunyi.

Perawakan Fitria kurus kecil dengan kulit gelap. Matanya besar dan mulutnya tertutup rapat. Pandangan matanya seperti terluka, menantang siapa saja yang memandangnya. Fitria sepertinya berusaha untuk tidak menarik perhatian, sesedikit mungkin membuat “gerakan”. Menurut saya dia merasa tidak aman. Tapi mengapa? Dari siapa?

Dengan kelakuannya itu, Fitria jadi berbeda dengan yang lain. Akibatnya teman-temannya jadi tertarik padanya. Tertarik menjahatinya. Saya sendiri harus ekstra perhatian dan sabar menghadapi Fitria yang sering jadi sasaran ejek massa ini. Karena jujur, seringkali memang Fitria menyebalkan. Aksi diamnya itu sering sukses bikin sinyal kesabaran saya mendadak hilang. Untungnya saya tidak memarahinya seperti kalau saya kesal pada Fauzan, Endi, atau murid laki-laki lainnya.

***

Memilukan sekali nasib Fitria di dalam kelas. Anak-anak sering mengejek dan mencemoohnya, baik murid laki-laki maupun perempuan. Fitria bagai musuh bersama. Padahal tak salah apa-apa.

Pernah suatu ketika Ika meminjam penghapus Fitria. Saat Fitria menagihnya, Ika malah bersikap masa bodoh. Terang saja Fitria kesal. Dia mendekati Ika sambil terus menagih-nagih.

“Mana, Ka? Mana? Mana apusan aku?”

Ih, mana aku tahu! Yeee…!”

“Mana?” Fitria tetap ngeyel.

Ih, apaan sih Fitria. Bau!” Ika malah berucap di luar konteks.

Saya yang kebetulan tahu kalau Ika meminjam penghapus Fitria, jadi tak tahan untuk ikut campur.

Saya ikut memaksanya mengembalikan penghapus Fitria yang ternyata disembunyikannya di dalam sakunya. Saya tahu Ika berbuat begitu bukan karena mau mengutil, hanya untuk bersenang-senang menjahili Fitria.

Saya katakan pada mereka,

“Pantas saja Fitria tidak betah di sekolah, karena kalian jahat sama dia. Gimana dia mau betah? Memangnya dia salah apa sama kalian?”

Anak-anak menunduk.

“Ika! Fitria salah apa sama kamu?”

“Ya habis….dia ngeselin, Bu…” mulut Ika manyun lima senti saat mengatakannya.

“Kalau misalnya barang kamu dipinjam orang lain, terus orang itu gak mau balikin. Kamu marah gak, Ka?” saya menghela nafas dan mulai menurunkan tegangan.

“Ya marah, Bu…” Ika mencibir.

“Ya sama, Fitria juga begitu. Kamu kan pinjam baik-baik sama dia, mengembalikan juga baik-baik, dong. Harusnya terima kasih sama yang minjemin, bukannya malah ngumpetin barangnya.”

Ika diam.

“Jangan seperti itu lagi ya. Jadi anak baik. Katanya mau masuk surga. Fitria kan teman kalian juga. Satu kelas harus kompak. Coba, ingat gak waktu pelajaran PKN yang kita matahin sapu lidi?”

“Ingat, Bu!”

“Nah. Sama seperti kita sekarang. Kalau kalian bertengkar terus, kalian seperti sapu lidi yang terpisah-pisah, mudah dipatahkan. Tapi kalau kita kompak, sama seperti sapu lidi yang diikat jadi satu. Kuat. Tidak mudah dipatahkan. Ya?”

“Iya, Bu!”

“Bu, tapi bapak saya kuat Bu, matahin gagang kemoceng. Waktu saya nakal, dipukul pakai kemoceng, duash, langsung patah Bu!” cerita Endi bangga. Teman-temannya tertarik menimpali.

Udah-udah,” saya langsung memotong topik mengerikan itu. “Sekarang, Ika kembalikan apusan Fitria.”

Drama satu babak pun berakhir, tapi babak-babak lainnya mengikuti.

Pernah Fitria didemo gara-gara namanya. Nama lengkap Fitria adalah Juliana Febriana Fitria. Saat saya mengabsen memanggil nama tersebut, anak-anak protes berat!

Yee, emang gitu namanya, Bu? Orang Fitria doang sih,” sergah Dede tidak rela.

“Iya, bukan begitu Bu, namanya! Ih, Bu, dia mah ngarang, Bu!” kata Engkur sambil mencap-mencep.

“Ditambah-tambahin sendiri dia mah, Bu!” Astaga, Aldi yang cowok ikut-ikutan juga.

“Lho, kalian tahu dari mana kalau itu bukan namanya?” saya coba menanyakan alasan keberatan mereka. Sementara Fitria hanya diam sambil bergantian memandangi teman-temannya yang protes.

“Ya Allah, Bu, di kelas 2 itu namanya Fitria aja. Masa sekarang berubah jadi panjang banget?” Kur yang namanya cuma sata kata merasa tak terima dengan nasib baik Fitria.

“Iya, udah coret aja Bu, kepanjangan. Gaya beut sih!” Fauzan menimpali.

“Fitria ini, sejak kelas dua memang namanya sudah panjang begini. Cuma dulu mungkin Bu Lika gak pernah memanggil nama panjangnya. Kok kalian malah marah?”

Ihh…gak mungkin! Pasti boong tuh. Jangan percaya, Bu!” Aldi benar-benar ngotot sampai urat lehernya keluar.

Astaga, bagaimana Fitria tidak tertekan?

“Hei,” saya mulai tak sabaran, ”Aldi, dengar. Fitria itu sejak lahir namanya memang begini. Juliana Febriana Fitria. Sama ibunya memang sudah dikasih nama begitu. Kok jadi kamu sih yang protes? Emang kamu yang ngelahirin Fitria?”

“Hahaha…” sontak anak-anak tertawa, menertawakan kemungkinan Aldi melahirkan Fitria.

Untungnya ampuh, anak-anak bisa menerima logika tersebut. Selamatlah Fitria dengan nama megahnya.

Fitria memang sering menjadi korban, kadang-kadang sampai menangis. Kalau sudah begitu biasanya saya marah besar. Dan kalau saya marah karena membela Fitria, mereka memprotes saya.

Saya menjawab, “Ibu membela Fitria karena kalian jahat sama dia. Coba kalau Fitria ditemani, diajak main, ya Ibu gak bakalan marah-marah.”

Saya lalu menambahkan, “Kalau ada yang menjahati kalian, Ibu juga bakalan marah-marah ngebela kalian.”

Anak-anak pun diam.

Saat Fitria absen karena mood bolosnya sedang tinggi, sering saya nasihati anak-anak yang hadir di kelas,

“Fitria itu kan anak yatim, kalian gak boleh jahat sama dia. Harus baik-baik sama anak yatim. Itu yang diajarkan sama Rasul.”

Maka kalau suatu ketika ada oknum yang menzalimi Fitria, anak-anak yang mengingat nasihat itu akan berkata,

“Eh, gak boleh gitu sama anak yatim…”

***

Alhamdulillah, semakin hari Fitria semakin bisa diterima. Saya tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya hati saya saat suatu hari melihat dia tertawa—–menertawakan lelucon yang sama dengan teman-temannya. Saya juga merasa lega luar biasa saat dia sudah mulai bisa bermain bersama dengan teman-temannya, meski masih malu-malu.

Oh iya, satu lagi yang membuat saya terharu. Kebanyakan anak-anak Al-Iman sangat hangat, mereka bisa menggandeng atau memeluk guru-gurunya dengan ringan. Fitria boro-boro. Didekati saja menjauh. Hingga suatu pagi saat kami semua akan memulai senam, tak ada angin tak ada hujan, Fitria tiba-tiba mendekati saya dan dengan canggung menggandeng tangan saya! Saya sampai gugup. Tentu saja saya ge-er bukan buatan. Guru-guru juga heran dan berpendapat bahwa Fitria sekarang jadi lebih manusiawi. Terima kasih Tuhan…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung

Jumlah kata: 997 kata termasuk link 🙂

Harapan

Sugeng Enjang, Mbah…” Bu Gino menyapa ramah.

Nggih…” Mbah Syamsi tersenyum. Agak kecut.

Untuk kesekian kalinya dalam pagi ini, mesin penghitung dalam otak tuanya kembali bekerja. Hasilnya tak berubah. 201.

Bu Gino memandang punggung Mbah Syamsi dengan prihatin.

Uang kirimanmu setengah tahun yang lalu sudah kuirit-irit, Le. Tapi tak sampai tiga bulan sudah habis.

“Kartu BLSM-nya dibawa, Mbah?” pertanyaan petugas kelurahan membuyarkan lamunannya.

 

63