Juliana Febriana Fitria

Fitria, murid saya di SD Gratis Al-Iman terkenal sebagai “tukang bolos”. Sehari masuk, tiga hari bolos. Tiga hari masuk, seminggu bolos. Kalau ada lomba membolos, barangkali dia pemenangnya.

Ketika akhirnya Fitria masuk, saya melihatnya sebagai anak yang pendiam. Silent. Sangat silent. Kalau ditanya hanya menggeleng dan mengangguk. Atau mengeluarkan suara yang mungkin tak sampai keras untuk didengar telinganya sendiri. Seandainya hape, mungkin yang aktif hanya vibrasinya saja. Tanpa nada dering. Tak berbunyi.

Perawakan Fitria kurus kecil dengan kulit gelap. Matanya besar dan mulutnya tertutup rapat. Pandangan matanya seperti terluka, menantang siapa saja yang memandangnya. Fitria sepertinya berusaha untuk tidak menarik perhatian, sesedikit mungkin membuat “gerakan”. Menurut saya dia merasa tidak aman. Tapi mengapa? Dari siapa?

Dengan kelakuannya itu, Fitria jadi berbeda dengan yang lain. Akibatnya teman-temannya jadi tertarik padanya. Tertarik menjahatinya. Saya sendiri harus ekstra perhatian dan sabar menghadapi Fitria yang sering jadi sasaran ejek massa ini. Karena jujur, seringkali memang Fitria menyebalkan. Aksi diamnya itu sering sukses bikin sinyal kesabaran saya mendadak hilang. Untungnya saya tidak memarahinya seperti kalau saya kesal pada Fauzan, Endi, atau murid laki-laki lainnya.

***

Memilukan sekali nasib Fitria di dalam kelas. Anak-anak sering mengejek dan mencemoohnya, baik murid laki-laki maupun perempuan. Fitria bagai musuh bersama. Padahal tak salah apa-apa.

Pernah suatu ketika Ika meminjam penghapus Fitria. Saat Fitria menagihnya, Ika malah bersikap masa bodoh. Terang saja Fitria kesal. Dia mendekati Ika sambil terus menagih-nagih.

“Mana, Ka? Mana? Mana apusan aku?”

Ih, mana aku tahu! Yeee…!”

“Mana?” Fitria tetap ngeyel.

Ih, apaan sih Fitria. Bau!” Ika malah berucap di luar konteks.

Saya yang kebetulan tahu kalau Ika meminjam penghapus Fitria, jadi tak tahan untuk ikut campur.

Saya ikut memaksanya mengembalikan penghapus Fitria yang ternyata disembunyikannya di dalam sakunya. Saya tahu Ika berbuat begitu bukan karena mau mengutil, hanya untuk bersenang-senang menjahili Fitria.

Saya katakan pada mereka,

“Pantas saja Fitria tidak betah di sekolah, karena kalian jahat sama dia. Gimana dia mau betah? Memangnya dia salah apa sama kalian?”

Anak-anak menunduk.

“Ika! Fitria salah apa sama kamu?”

“Ya habis….dia ngeselin, Bu…” mulut Ika manyun lima senti saat mengatakannya.

“Kalau misalnya barang kamu dipinjam orang lain, terus orang itu gak mau balikin. Kamu marah gak, Ka?” saya menghela nafas dan mulai menurunkan tegangan.

“Ya marah, Bu…” Ika mencibir.

“Ya sama, Fitria juga begitu. Kamu kan pinjam baik-baik sama dia, mengembalikan juga baik-baik, dong. Harusnya terima kasih sama yang minjemin, bukannya malah ngumpetin barangnya.”

Ika diam.

“Jangan seperti itu lagi ya. Jadi anak baik. Katanya mau masuk surga. Fitria kan teman kalian juga. Satu kelas harus kompak. Coba, ingat gak waktu pelajaran PKN yang kita matahin sapu lidi?”

“Ingat, Bu!”

“Nah. Sama seperti kita sekarang. Kalau kalian bertengkar terus, kalian seperti sapu lidi yang terpisah-pisah, mudah dipatahkan. Tapi kalau kita kompak, sama seperti sapu lidi yang diikat jadi satu. Kuat. Tidak mudah dipatahkan. Ya?”

“Iya, Bu!”

“Bu, tapi bapak saya kuat Bu, matahin gagang kemoceng. Waktu saya nakal, dipukul pakai kemoceng, duash, langsung patah Bu!” cerita Endi bangga. Teman-temannya tertarik menimpali.

Udah-udah,” saya langsung memotong topik mengerikan itu. “Sekarang, Ika kembalikan apusan Fitria.”

Drama satu babak pun berakhir, tapi babak-babak lainnya mengikuti.

Pernah Fitria didemo gara-gara namanya. Nama lengkap Fitria adalah Juliana Febriana Fitria. Saat saya mengabsen memanggil nama tersebut, anak-anak protes berat!

Yee, emang gitu namanya, Bu? Orang Fitria doang sih,” sergah Dede tidak rela.

“Iya, bukan begitu Bu, namanya! Ih, Bu, dia mah ngarang, Bu!” kata Engkur sambil mencap-mencep.

“Ditambah-tambahin sendiri dia mah, Bu!” Astaga, Aldi yang cowok ikut-ikutan juga.

“Lho, kalian tahu dari mana kalau itu bukan namanya?” saya coba menanyakan alasan keberatan mereka. Sementara Fitria hanya diam sambil bergantian memandangi teman-temannya yang protes.

“Ya Allah, Bu, di kelas 2 itu namanya Fitria aja. Masa sekarang berubah jadi panjang banget?” Kur yang namanya cuma sata kata merasa tak terima dengan nasib baik Fitria.

“Iya, udah coret aja Bu, kepanjangan. Gaya beut sih!” Fauzan menimpali.

“Fitria ini, sejak kelas dua memang namanya sudah panjang begini. Cuma dulu mungkin Bu Lika gak pernah memanggil nama panjangnya. Kok kalian malah marah?”

Ihh…gak mungkin! Pasti boong tuh. Jangan percaya, Bu!” Aldi benar-benar ngotot sampai urat lehernya keluar.

Astaga, bagaimana Fitria tidak tertekan?

“Hei,” saya mulai tak sabaran, ”Aldi, dengar. Fitria itu sejak lahir namanya memang begini. Juliana Febriana Fitria. Sama ibunya memang sudah dikasih nama begitu. Kok jadi kamu sih yang protes? Emang kamu yang ngelahirin Fitria?”

“Hahaha…” sontak anak-anak tertawa, menertawakan kemungkinan Aldi melahirkan Fitria.

Untungnya ampuh, anak-anak bisa menerima logika tersebut. Selamatlah Fitria dengan nama megahnya.

Fitria memang sering menjadi korban, kadang-kadang sampai menangis. Kalau sudah begitu biasanya saya marah besar. Dan kalau saya marah karena membela Fitria, mereka memprotes saya.

Saya menjawab, “Ibu membela Fitria karena kalian jahat sama dia. Coba kalau Fitria ditemani, diajak main, ya Ibu gak bakalan marah-marah.”

Saya lalu menambahkan, “Kalau ada yang menjahati kalian, Ibu juga bakalan marah-marah ngebela kalian.”

Anak-anak pun diam.

Saat Fitria absen karena mood bolosnya sedang tinggi, sering saya nasihati anak-anak yang hadir di kelas,

“Fitria itu kan anak yatim, kalian gak boleh jahat sama dia. Harus baik-baik sama anak yatim. Itu yang diajarkan sama Rasul.”

Maka kalau suatu ketika ada oknum yang menzalimi Fitria, anak-anak yang mengingat nasihat itu akan berkata,

“Eh, gak boleh gitu sama anak yatim…”

***

Alhamdulillah, semakin hari Fitria semakin bisa diterima. Saya tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya hati saya saat suatu hari melihat dia tertawa—–menertawakan lelucon yang sama dengan teman-temannya. Saya juga merasa lega luar biasa saat dia sudah mulai bisa bermain bersama dengan teman-temannya, meski masih malu-malu.

Oh iya, satu lagi yang membuat saya terharu. Kebanyakan anak-anak Al-Iman sangat hangat, mereka bisa menggandeng atau memeluk guru-gurunya dengan ringan. Fitria boro-boro. Didekati saja menjauh. Hingga suatu pagi saat kami semua akan memulai senam, tak ada angin tak ada hujan, Fitria tiba-tiba mendekati saya dan dengan canggung menggandeng tangan saya! Saya sampai gugup. Tentu saja saya ge-er bukan buatan. Guru-guru juga heran dan berpendapat bahwa Fitria sekarang jadi lebih manusiawi. Terima kasih Tuhan…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung

Jumlah kata: 997 kata termasuk link 🙂

Advertisements

2 responses

Have a word? Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s