Tafsir Al Mishbah [Senin, 15 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Pembahasan episode hari ini adalah Surat Hud 50-60

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah nabi Hud dengan kaumnya:
Jika ada orang lain berbuat salah tapi kita diam saja, kita bisa terkena tangggung jawab (mengapa tidak memperingatkannya, baik secara lisan maupun perbuatan, atau minimal hati yang tidak rela). Jika kita sudah menasihati berkali-kali tetapi orang tersebut tidak mau berubah dan tetap melakukan kesalahannya, maka kita serahkan saja pada Allah. Ya Allah, saksikanlah bahwa aku sudah memperingatkan mereka tetapi mereka tidak mau berubah. Maka aku serahkan mereka padaMu.
Hal ini juga mengajarkan pada kita untuk bertawakkal kepada Allah sesudah berusaha.

Tidak ada satu makhluk pun yang bernyawa yang tidak Allah pegang ubun-ubunnya (Allah berkuasa atas semua makhluk Nya). Tetapi Allah juga memberikan jalan yang lebar pada manusia (pilihan), sehingga mereka diberi kesempatan untuk berusaha sesuai kemampuannya.

Pada ayat 50:  Dan ketika ketentuan kami telah datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami. Kami selamatkan pula mereka di akhirat dari azab yang berat.
Tuhan menyebutkan 2 kali kata selamat dan 1 kali kata azab. Hal ini menandakan bahwa Tuhan lebih mendahulukan rahmat dan kasih sayang daripada murkaNya.
Tuhan itu pada prinsipnya  (menurunkan) rahmat. Jika Tuhan menyiksa, itu dikarenakan kesalahan manusia itu sendiri.


Penjelasan Pak Quraish Shihab tentang pertanyaan pemirsa.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya mengakui kesalahan tanpa merasa malu dan gengsi? 

Jawaban Pak Quraish:
Mengakui kesalahan tidak menurunkan martabat
.
Pada dasarnya kesalahan itu ada dua, kesalahan kepada manusia, dan kesalahan kepada Allah.

Jika kesalahan itu berhubungan dengan Allah, orang lain tidak perlu tahu. Cukup sampaikan langsung permintaan taubat kepada Allah.

Jika berhubungan dengan orang lain, maka kita memang harus meminta maaf pada orang yang bersangkutan. Namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan, ada berbagai cara yang lain yang bisa ditempuh. Misalkan dengan mengakuinya pada sebuah majelis tentang kesalahan berpikirnya, “Tadinya saya kira si Ali itu pelit, ternyata baiknya luar biasa.”
Atau jika kita sudah tidak bisa menjumpai orang yang bersangkutan (karena meninggal atau tidak pernah bertemu lagi), kita bisa memohon pada Allah. Ya Allah tolong ambil alih permasalahan ini dan aku memohon ampunanMu.

Pertanyaan:
Apakah orang yang memohon ampun atas kesyirikannya, dia tidak diampuni? Sebab Allah mengatakan dalam Al Quran bahwa Beliau mengampuni semua dosa kecuali syirik.

Jawaban Pak Quraish:
Yang tidak diampuni Allah itu apabila ia meninggal dalam keadaan syirik. Jika orang tersebut itu masih hidup, maka Tuhan masih mengampuni selama taubat yang dilakukan secara tulus dan bersungguh-sungguh.
Kita bisa berkaca pada sahabat Nabi. Pada awalnya semua sahabat adalah musyrik karena menyembah berhala. (Kecuali syd Ali, beliau mendapat julukan “Karamallahu wajhahu”-wajah yang dimuliakan Allah- karena tidak pernah menundukkan wajahnya pada berhala). Tetapi para sahabat Nabi yang tadinya musyrik kemudian bertaubat dan berjuang untuk Islam, memiliki kedudukan yang mulia baik di sisi Nabi maupun Allah.
Kesimpulannya, selama kita masih hidup dan bertaubat (nasuha), maka terbuka kemungkinan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita, bahkan dosa syirik. Tetapi jika kita meninggal dalam keadaan syirik, dosa tersebut tak terampuni.
Lalu bagaimana dengan dosa-dosa selain syirik yang terbawa mati? Masih ada kemungkinan bagi Tuhan untuk mengampuninya. Meskipun demikian kita tidak boleh meremehkan hal tersebut.

Pertanyaan:
Apakah manusia makhluk paling sempurna?

Jawaban Pak Quraish:
Di Al Quran tidak pernah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Hanya disebutkan bahwa manusia lebih dimuliakan dan ditinggikan kedudukannya dari banyak makhluk yang lainnya.
Pada dasarnya Tuhan menciptakan semua makhluk sempurna, sesuai dengan tujuan penciptaannya masing-masing. Manusia diciptakan sempurna untuk mengelola bumi (khalifah). Malaikat diciptakan semuprna untuk taat pada Tuhan. Setan diciptakan sempurna untuk menggoda manusia.
Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan agar kita mengambil pelajaran bahwa yang hasil ciptaan itu sifatnya berpasangan, sedangkan Pencipta itu Tunggal.

Tuhan itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Islam tidak menghalalkan cara yang buruk demi tujuan yang baik. Misalnya mencuri untuk pergi haji.


Kesimpulan

– Jika ingin tenang hilangkanlah segala dendam dan amarah. Bina hubungan yang baik dengnan Allah dan makhlukNya.

– Kalau ada yang melakukan kemungkaran, tidak boleh diam saja. Cegahlah dengan lisan, tindakan, atau minimal ketidak-relaan hati.

– Berserah diri setelah usaha maksimal merupakan keharusan. Serahkan pada Allah tentang keputusannya.

– Allah menyediakan jalan lurus yang lebar untuk ditempuh para makhluknya. Karena itu tidak mungkin Allah menzalimi makhlukNya.

– Mengingkari satu rasul, sama dengan mengingkari semua rasul.

Advertisements

Have a word? Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s