Logat

Pernah melihat iklan syrup di televisi yang berlatar belakang budaya Madura, dimana sang anak sedang bermain dengan sapinya? Kalau kita perhatikan, sang Ayah menyuruh anaknya untuk memandikan sapi, tapi dengan logat Madura yang terdengar dipaksakan. Belum lagi kalimatnya begini, “Ayo mandiin sapi.”

Mandiin? Bapak “Sakerah” menyuruh anaknya “mandiin” sapi?

Ya..ya..saya tau iklan bukan sesuatu yang harus disikapi terlalu serius. Mungkin ini hanya ketersinggungan primordial saya sebagai orang Madura (nenek-kakek saya puree Madura) (*penting). Rasanya aneh saja sesosok orang Madura harus berbicara dengan logat ibu kota saat mengucapkan kata “mandiin”. Kalau memang mau menggambarkan orang Madura (karena bajunya dan aksennya sudah terlanjur Madura), kenapa tidak sekalian saja sang ayah mengucapkan kata-katanya dalam bahasa daerah Madura? Kan bisa diberi translate. Atau kalau memang mau ear-catching dengan menggunakan bahasa Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bilang saja, “Ayo mandikan sapi.” Kalau dalam iklan tersebut sosok ayahnya memakai baju sehari-hari tanpa embel-embel logat yang mewakili daerah tertentu, bolehlah dia mau memakai kata mandiin. Lha ini kan sudah jelas-jelas dia berpakaian ala Pak Sakerah? Why in the world is Pak Sakerah menyuruh anaknya untuk mandiin sapi??

Inilah salah satu gambaran “penjajahan bahasa” sebagaimana dulu pernah dikeluhkan oleh dosen saya Pak Sahala Tua Saragih. Beliau gemas karena banyak radio lokal di daerah-daerah yang para penyiarnya membawakan acaranya dengan berlogat ibu kota (biasanya yang bersegmen anak muda). Mengapa harus Jakarta-an sedangkan pendengarnya bukan orang Jakarta? Mengapa tidak memakai logat sehari-hari yang lebih akrab di telinga para pendengarnya? Ataukah memang para radio-radio lokal mempekerjakan penyiar dari Jakarta? Rasanya tidak mungkin. Rupanya memang logat Jakarta/Betawi-lah yang sudah “menjajah”  melalui media televisi sehingga anak muda di daerah-daerah lain merasa keren jika bisa berbicara menggunakan logat tersebut beserta bahasa-bahasa gaulnya.

Anyway…saya sendiri mungkin juga termasuk salah satu pendosa bahasa. Jika berbicara dengan teman di lingkungan kerja atau kampus dulu, saya juga berusaha meniru-niru logat Jakarta (nah lho…). Saat menulis sesuatu yang informal pun (seperti surat, buku harian, atau blog) tulisan saya banyak menyisipkan bahasa pergaulan ibu kota :p Tapi…tapi…aku kan bukan bintang iklan berbusana daerah atau penyiar radio lokal? Jadi sah-sah saja kan kalau menggunakan bahasa dan logat apapun yang kumau? *kitty-cat eyes.

Please?

Kalau lingkupnya personal bebas saja kali ya… Yang meresahkan bila menyangkut ranah publik seperti radio dan televisi. Kok kayaknya kita jarang ya mendengar logat-logat lain selain logat Jakarta? Padahal kan bahsa daerah di Indonesia buanyak banget (dari hasil googling, tercatat ada lebih dari 500 bahasa daerah!) Dan itu penelitiannya masih terus berlanjut, sehingga akan lebih banyak lagi bahasa daerah yang lebih gimana gitu ya kalau kearifan lokal tetap bisa ditampilkan. Lebih sexy! Hehe…

Saya juga termasuk korban penjajahan media massa yang telah berlangsung secara berkelanjutan semenjak orde baru dulu. Jika bertemu pertama kali dengan orang asing, logat Bahasa Indonesia yang keluar adalah yang sok-sok “halus” tanpa geronjalannya logat Jawa. Tapi jika berkumpul dengan saudara atau teman-teman lama, tentu saja bahasa daerah sendiri atau bahasa Indonesia yang berlogat nJemberan.

Saya sering tergila-gila mendengarkan orang berlogat Indonesia Timur saat mereka sedang berbicara bahasa Indonesia. Logat orang Sulawesi, terutama. Mereka punya banyak artikel untuk disisipkan dalam tiap kalimatnya. Ada ji, ki, mi, di (dan sepertinya masih banyak lagi), yang mana tiap artikel digunakan dalam kondisi yang berbeda-beda dan mengandung penegasan makna yang berbeda pula. Aih…cute bangettt 😉 Saya juga senang mendengarkan orang Bali berbicara. Kalau teman saya orang Padang atau Palembang sedang berbicara dalam bahasa ibunya, rasanya hati saya memercik-mercik girang sekaligus penasaran ingin tahu apa artinya. Aihh…kenapa pula harus girang ya? Logat bicara teman saya yang dari Cilacap dan Tegal juga sangat menghibur. Logat Madura ataupun Jawa Timur juga tak ada bandingannya (berapa banyak bahasa yang bisa membuat orang yang mendengarkan lari karena dikira sedang ngamuk-ngamuk? —> teman saya kabur saat lewat depan rumah saya karena menyangka kakek saya sedang marah-marah, padahal kakek cuma sedang mengobrol biasa saja di telepon dengan famili di Madura… XD).

Kalau orang Madura yang menguasai media massa dunia, mungkin kita akan geli dan menganggap lucu jika ada orang Inggris berbicara dengan logat Brittish-nya.

Advertisements

2 responses

Have a word? Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s