[Berani Cerita #19] Balada si Rangga

“Berhenti!!” Mira menghadang Rangga. Matanya melotot marah.

“Eh..Ta..Tante Mi…Mira??” Rangga tergeragap, syok dengan kemunculan Mira yang tiba-tiba saat dia sedang menyeberang bersama Nindi.

“Ooh…jadi seperti ini kelakuan kamu, Rangga! Ha?” Mira bergantian menatap Rangga dan Nindi dengan sengit.

“Lho, Tante ini siapa ya? Kok marah-marah, sih? ” Nindi menatap Mira curiga.

“Kurang ajar!” alih-alih menjawab Nindi. Mira mendorong bahu Rangga dengan keras.

Nindi memekik melihat Rangga terjatuh. Tas-tas belanjaan merah bertuliskan “Metro” terlepas dari kedua tangannya. Keberadaan mereka di tengah zebra cross mulai jadi tontonan orang.

“Bu…bukan begitu, Tante. Saya bisa jelaskan semuanya, Tante,” Rangga mencoba bangkit.

“Nggak perlu ! Mataku sudah menjelaskan semuanya!”

Bugggh!!

Satu pukulan mendarat di perut. Rangga terpental ke aspal.

“Rangga!!” Nindi menjerit tapi tak bisa berbuat apa-apa. Nyalinya menciut melihat perempuan separuh baya bertubuh gempal itu merobohkan Rangga. Orang-orang mulai datang berkerumun sementara mobil-mobil di belakang mulai membunyikan klaksonnya.

“Ampun Tante…ampun…” Rangga berusaha melindungi dirinya sambil meringkuk.

Melihat Rangga pasrah, Mira menyurutkan pukulannya.

“Ayo bangun!”

“Ampun, Tante…” Rangga mulai terisak.

“Pakai nangis segala. Kamu pikir aku bakal kasihan? Nggak usah banyak gaya deh. Kembalikan uang anakku!” Mira mendelik galak sambil berkacak pinggang.

“Saya belum ada uang, Tante…” Rangga memelas.

“Ooh…belum ada uang??!” Mira mengambil tas-tas belanjaan yang tadi terjatuh kemudian menumpahkan isinya ke tubuh Rangga. Baju-baju dan sepatu pria, beberapa make up dan asesoris wanita, serta bra dan celana dalam warna-warni berjatuhan di sekitar Rangga. Terdengar suara cekikikan dari beberapa orang yang berkerumun.

“Belanjaan akuuuh…” Nindi mengerang nelangsa melihat adegan itu.

“Buat belanjain cewek, ada. Buat bayar hutang enggak ada. Huh!” Mira bersiap-siap dengan tendangannya.

“Ampun…ampun..Tanteee…” Rangga langsung sigap melindungi lagi tubuhnya. Alih-alih menendang, Mira mengalihkan pandangannya ke arah Nindi. Nindi mengerut.

“Pacarmu ini merengek-rengek pinjam uang ke Soni, anakku. Alasannya buat buka usaha.” Mira menunjuk-nunjuk Rangga dengan geram. “Anakku yang baik itu sampai jual motornya buat bantu pacar kamu ini. Nggak taunya buat foya-foya. Itu duit anak saya yang dipakai buat beli bedak kamu. Tau kamu!” Mira ganti menunjuk-nunjuk muka Nindi.

“Anak saya panas-panasan naik angkot, pacar kamu enak ya ngadem di Pondok Indah!” Mira berbalik ke arah Rangga dan melepaskan tendangannya ke perut Rangga dengan kesal. Rangga mengaduh.

“Berapa dia pinjam ke anak Tante?” Nindi memberanikan diri bertanya.

“Seharga motor mio!”

Nindi terkejut kemudian beringsut menghampiri Rangga.

“Kamu, ya! Kamu bilang ga ada uang! Bilangnya temen kamu ga ada yang mau pinjemin! Aku sampe nangis-nangis ngebujuk Papi demi kamu. Kamu kan tau Papi aku peliiiitt! Aku rela uang sakuku dipotong. Rela ga bawa mobil dulu. Tegaaa kamu Rangga! Balikin semuanya pokoknya! Semua yang aku keluarin buat kamu! Nonton, makan, baju-baju ini, semuanyaaa!” Nindi memukul-mukul Rangga kalap dengan tasnya.

Mira melongo.

banner-BC#19

Jumlah kata: 437

#Prompt 20: Lelaki Tak Terkalahkan

ahermin18_large

source

“Pergi kau!”

Agung diam, membiarkan Ratri menumpahkan emosinya.

“Kau telah membuatku malu di depan suamiku!”

Brak.

Agung masih diam, matanya memejam.

“Aku tak pernah menyakitimu, kan? Tapi kenapa ini balasannya? Kenapa kau malah menampakkan diri di depan suamiku? Hah?”

Brak.

Bruk.

Hening.

……

“Mas,” Ratri memanggilnya. Agung membuka mata.

“Laba-labanya sudah kubunuh dan kubuang ke luar. Kamar mandi sudah aman,” Ratri tersenyum manis dan mengelus punggung Agung lembut.

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Aku mandi dulu.”
Jumlah kata: 83
Tulisan ini disertakan dalam prompt challenge #19 yang diadakan oleh Monday Flash Fiction dengan tema “Lelaki”.
MFF LogoBanner_zpse37327dd

Harapan

Sugeng Enjang, Mbah…” Bu Gino menyapa ramah.

Nggih…” Mbah Syamsi tersenyum. Agak kecut.

Untuk kesekian kalinya dalam pagi ini, mesin penghitung dalam otak tuanya kembali bekerja. Hasilnya tak berubah. 201.

Bu Gino memandang punggung Mbah Syamsi dengan prihatin.

Uang kirimanmu setengah tahun yang lalu sudah kuirit-irit, Le. Tapi tak sampai tiga bulan sudah habis.

“Kartu BLSM-nya dibawa, Mbah?” pertanyaan petugas kelurahan membuyarkan lamunannya.

 

63