Tafsir Al Mishbah [Selasa, 16 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Surat Hud 61-68

Kisah Nabi Shalih.

Manusia tercipta dari unsur-unsur tanah. Apabila kita perhatikan, sperma dan ovum yang menjadi cikal bakal manusia terbentuk dari makanan yang kita makan. Sedangkan makanan kita kesemuanya tumbuh dari tanah (unsur hewani dalam makanan kita pun pada dasarnya memakan tumbuhan). Jadi sebenarnya unsur-unsur manusia mengandung semua unsur-unsur yang ada pada tanah.

Allah menugaskan manusia untuk mengolah dan memakmurkan bumi agar mereka bisa hidup nyaman di atas muka bumi.

Jika Allah menugaskan suatu makhluk, pasti makhluk tersebut sudah dianugerahi potensi untuk melakukannya. Begitu juga saat menugaskan manusia, Allah sudah memberi potensi untuk menjadi pemakmur bumi. antara lain: memiliki inisiatif. Mengapa bukan malaikat yang diutus menjadi khalifah? Karena malaikat tidak memiliki inisiatif seperti manusia, mereka hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja. Contohnya, manusia terpikir untuk melakukan penyilangan tumbuhan. Malaikat kayaknya tidak mungkin membuat yang demikian 🙂

Sebelum turun ke bumi, manusia (Adam) ditempatkan di surga terlebih dahulu. Mengapa? Supaya memiliki pengalaman dan bayangan bagaimana membangun bumi. Di surga banyak makanan, tempat tinggal, hal-hal yang indah, damai, sentosa, bikinlah yang semacam itu di bumi. Jadi surga menjadi prototype dalam membangun bumi.

Orang yang mengambil inisiatif pasti pernah berbuat kesalahan. Kalau berbuat salah, cepat mohon ampun pada Allah kemudian berbuat baik untuk menghapus keburukan yang kita lakukan.

Tuhan dekat dan menjawab doa.
Qariib atau dekat artinya: dekat bantuannya kepada orang yang baik, dan dekat dengan pengetahuan manusia kepadaNya.
Sedangkan Mujiib adalah mengabulkan permintaan makhlukNya.
Suatu ketika ada yang bertanya pada Nabi, “Yaa Nabi, Tuhan itu dekatkah atau jauh? Jika jauh, saya akan berdoa dengan berteriak supaya Tuhan bisa mendengar saya.” 🙂
Nabi menjawab, “Berdoalah dengan suara lirih, karena Tuhan itu dekat dan mengabulkan permintaan.”

Bukti kenabian /mujizat Tuhan untuk para Nabi disesuaikan dengan kondisi umatnya. Umat nabi Shalih adalah seniman, pandai memahat batu. Sehingga mujizat Nabi Shalih pun berhubungan dengan seni pahat. Beliau memahat batu karang menjadi unta, dan dengan ijin Allah menjadikan unta tersebut menjadi makhluk hidup.

Nabi Shalih sudah memeringatkan umatnya agar tidak mengganggu unta tersebut. Akan tetapi mereka malah menyembelihnya dengan kejam.

Dalam ayat di Surat Hud disebutkan bahwa “mereka menyembelihnya”, artinya yang menyembelih unta tersebut adalah orang banyak.  Sementara di ayat lain dikatakan bahwa seseorang menyembelihnya.
Apa maksud dari perbedaan redaksi ini? Bahwa sebenarnya yang menyembelih satu, tetapi yang menyetujui banyak.
Artinya jika ada orang yang berbuat buruk dan kita menyetujuinya, maka kita ikut bertanggung jawab memikul keburukan tersebut.

Kedurhakaan yang dilakukan umat Nabi Shalih sudah melampaui batas sehingga Tuhan menghukum mereka. Nabi Shalih memberi mereka tenggat waktu selama tiga hari untuk bersenang-senang. Setelah itu turunlah siksa Tuhan berupa suara yang teramat keras mengguntur yang menyebabkan mereka jatuh mati bergelimpangan.


Pertanyaan pemirsa

Bagaimana caranya agar anak mengerti dan mau menjalankan perintah-perintah agama?

Mengenalkan Tuhan pada anak-anak harus dengan cara-cara yang persuasif, diantaranya:
– Tanamkan pada jiwanya kecintaan pada Tuhan. Jangan takut-takuti dengan siksaan Tuhan, melainkan gambarkan pada anak-anak bahwa ada kekuasaan Maha Dahsyat di alam semesta ini yang sangat baik dan penuh kasih sayang.
– Berikanlah perumpamaan bahwa shalat itu ibarat makanan. Kita membutuhkannya untuk tetap hidup.
Apakah setelah kita bertaubat, doa kita pasti akan terkabul?
Allah menjanjikan akan mengampuni siapa yang berdoa dengan tulus dan beristighfar dengan benar. Tetapi…….jangan juga beranggapan bahwa istighfar dan doa kita pasti diterima. Belum tentu. Karena itu tetaplah memohon ampun.

Apabila kita sudah beristighfar dan Allah mengampuni, kemudian kita tetap melanjutkan istighfar kita, maka istighfar berikutnya itu dicatat sebagai amal kebaikan kita.

Manusia diberi potensi untuk memiliki inisiatif, meskipun terkadang tidak benar. Apakah itu berarti Allah mengijinkan manusia berbuat salah?
Selama niatnya baik dan tulus kemudian dia beristighfar, maka Allah Maha mengampuni kesalahan. Bukankah banyak manusia yang menemukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dari proses trial and error?
Apakah semua manusia potensinya sama?
Manusia berbeda-beda bakatnya, agar mereka bisa bekerja sama membangun bumi. Ada yang kecenderungannya bekerja, ada yang berdakwah, ada yang menyenangi kesenian, ada yang senang berpikir, bermacam-macam. Yang penting berusaha untuk memberikan manfaat dan bisa saling bekerja sama. Allah yang paling tahu tentang keseimbangan.
Apabila ada perbuatan yang buruk, bagaimana sikap kita seharusnya? Apakah harus melawan, atau dengan tidak setuju saja sudah cukup?
Perhatikan situasi dan kondisinya. Adakah wewenang kita untuk melakukan tindakan?
Misalkan ada seorang anak yang melakukan kesalahan di rumah orang tuanya sendiri. Kita melihatnya dan kemudian anak tersebut kita tampar. Orangtuanya pasti marah, karena itu bukan wewenang kita. Contoh yang lain adalah main hakim sendiri terhadap pencuri, padahal seharusnya kita bawa kepada Polisi sebagai pihak yang berwenang.

Jadi kalau ada perbuatan buruk yang kita tahu, lakukanlah sikap melawan dari yang terendah baru meningkat menuju yang tertinggi. Misalnya dari melotot dulu. 🙂 Jika dipelototi tidak mempan, baru menasihati (sesuai kemampuan). Jika dinasihati masih tetap berbuat buruk, kita bisa mengancam. Kalau masih juga tidak mempan, apabila berada dalam wewenang kita, kita bisa langsung menindaknya, tetapi jika bukan, kita bisa laporkan kepada pihak yang berwenang.

Islam menghargai budaya dan tradisi, selama tradisi tersebut baik dan sejalan dengan tuntunan agama silahkan dipertahankan.

Kesimpulan:

– Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur bumi. Dia dapat tugas sebagi pemakmur bumi sebagimana yang Tuhan kehendaki.
– Dalam membangun bumi tidak jarang terdapat kesalahan dan pelanggaran. Tetapi Allah akan mengampuni selama kita tulus memohon ampunanNya.
– Tuhan maha mendenagr dan dekat, sehingga tak perlu bersuara keras yang mengganggu orang lain. Kadang tanpa meminta pun Tuhan sudah tahu keinginan kita.
– Kaum Nabi Shalih, baik yang menyembelih dan menyetujui, semuanya mendapatkan sangsi. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak berkompromi dalam keburukan.

Advertisements

Tafsir Al Mishbah [Senin, 15 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Pembahasan episode hari ini adalah Surat Hud 50-60

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah nabi Hud dengan kaumnya:
Jika ada orang lain berbuat salah tapi kita diam saja, kita bisa terkena tangggung jawab (mengapa tidak memperingatkannya, baik secara lisan maupun perbuatan, atau minimal hati yang tidak rela). Jika kita sudah menasihati berkali-kali tetapi orang tersebut tidak mau berubah dan tetap melakukan kesalahannya, maka kita serahkan saja pada Allah. Ya Allah, saksikanlah bahwa aku sudah memperingatkan mereka tetapi mereka tidak mau berubah. Maka aku serahkan mereka padaMu.
Hal ini juga mengajarkan pada kita untuk bertawakkal kepada Allah sesudah berusaha.

Tidak ada satu makhluk pun yang bernyawa yang tidak Allah pegang ubun-ubunnya (Allah berkuasa atas semua makhluk Nya). Tetapi Allah juga memberikan jalan yang lebar pada manusia (pilihan), sehingga mereka diberi kesempatan untuk berusaha sesuai kemampuannya.

Pada ayat 50:  Dan ketika ketentuan kami telah datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami. Kami selamatkan pula mereka di akhirat dari azab yang berat.
Tuhan menyebutkan 2 kali kata selamat dan 1 kali kata azab. Hal ini menandakan bahwa Tuhan lebih mendahulukan rahmat dan kasih sayang daripada murkaNya.
Tuhan itu pada prinsipnya  (menurunkan) rahmat. Jika Tuhan menyiksa, itu dikarenakan kesalahan manusia itu sendiri.


Penjelasan Pak Quraish Shihab tentang pertanyaan pemirsa.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya mengakui kesalahan tanpa merasa malu dan gengsi? 

Jawaban Pak Quraish:
Mengakui kesalahan tidak menurunkan martabat
.
Pada dasarnya kesalahan itu ada dua, kesalahan kepada manusia, dan kesalahan kepada Allah.

Jika kesalahan itu berhubungan dengan Allah, orang lain tidak perlu tahu. Cukup sampaikan langsung permintaan taubat kepada Allah.

Jika berhubungan dengan orang lain, maka kita memang harus meminta maaf pada orang yang bersangkutan. Namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan, ada berbagai cara yang lain yang bisa ditempuh. Misalkan dengan mengakuinya pada sebuah majelis tentang kesalahan berpikirnya, “Tadinya saya kira si Ali itu pelit, ternyata baiknya luar biasa.”
Atau jika kita sudah tidak bisa menjumpai orang yang bersangkutan (karena meninggal atau tidak pernah bertemu lagi), kita bisa memohon pada Allah. Ya Allah tolong ambil alih permasalahan ini dan aku memohon ampunanMu.

Pertanyaan:
Apakah orang yang memohon ampun atas kesyirikannya, dia tidak diampuni? Sebab Allah mengatakan dalam Al Quran bahwa Beliau mengampuni semua dosa kecuali syirik.

Jawaban Pak Quraish:
Yang tidak diampuni Allah itu apabila ia meninggal dalam keadaan syirik. Jika orang tersebut itu masih hidup, maka Tuhan masih mengampuni selama taubat yang dilakukan secara tulus dan bersungguh-sungguh.
Kita bisa berkaca pada sahabat Nabi. Pada awalnya semua sahabat adalah musyrik karena menyembah berhala. (Kecuali syd Ali, beliau mendapat julukan “Karamallahu wajhahu”-wajah yang dimuliakan Allah- karena tidak pernah menundukkan wajahnya pada berhala). Tetapi para sahabat Nabi yang tadinya musyrik kemudian bertaubat dan berjuang untuk Islam, memiliki kedudukan yang mulia baik di sisi Nabi maupun Allah.
Kesimpulannya, selama kita masih hidup dan bertaubat (nasuha), maka terbuka kemungkinan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita, bahkan dosa syirik. Tetapi jika kita meninggal dalam keadaan syirik, dosa tersebut tak terampuni.
Lalu bagaimana dengan dosa-dosa selain syirik yang terbawa mati? Masih ada kemungkinan bagi Tuhan untuk mengampuninya. Meskipun demikian kita tidak boleh meremehkan hal tersebut.

Pertanyaan:
Apakah manusia makhluk paling sempurna?

Jawaban Pak Quraish:
Di Al Quran tidak pernah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Hanya disebutkan bahwa manusia lebih dimuliakan dan ditinggikan kedudukannya dari banyak makhluk yang lainnya.
Pada dasarnya Tuhan menciptakan semua makhluk sempurna, sesuai dengan tujuan penciptaannya masing-masing. Manusia diciptakan sempurna untuk mengelola bumi (khalifah). Malaikat diciptakan semuprna untuk taat pada Tuhan. Setan diciptakan sempurna untuk menggoda manusia.
Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan agar kita mengambil pelajaran bahwa yang hasil ciptaan itu sifatnya berpasangan, sedangkan Pencipta itu Tunggal.

Tuhan itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Islam tidak menghalalkan cara yang buruk demi tujuan yang baik. Misalnya mencuri untuk pergi haji.


Kesimpulan

– Jika ingin tenang hilangkanlah segala dendam dan amarah. Bina hubungan yang baik dengnan Allah dan makhlukNya.

– Kalau ada yang melakukan kemungkaran, tidak boleh diam saja. Cegahlah dengan lisan, tindakan, atau minimal ketidak-relaan hati.

– Berserah diri setelah usaha maksimal merupakan keharusan. Serahkan pada Allah tentang keputusannya.

– Allah menyediakan jalan lurus yang lebar untuk ditempuh para makhluknya. Karena itu tidak mungkin Allah menzalimi makhlukNya.

– Mengingkari satu rasul, sama dengan mengingkari semua rasul.

Tafsir Al Mishbah [Minggu, 14 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)
Surat Hud 36-49

Dalam doa naik kendaraan terdapat kalimat “Inna rabbi laa ghafuururrahiim” (Sesungguhnya Engkau wahai Tuhanku, Maha Pengampun dan Penyayang). Mengapa berdoa demikian?
Karena ketika sudah di atas kendaraan banyak orang yang sudah merasa aman. Merasa bahwa ia yang punya kemampuan menjalankan kendaraan dan pasti akan tiba dengan selamat di tujuan. Karena itu kita diajarkan untuk memohon ampun pada Tuhan karena kesombongan tersebut.

Situasi yang paling mencekam dalam kehidupan Nabi adalah pada saat beliau berdakwah di Thaif. Ketika itu Nabi diusir, diejek, dimaki-maki, dilempari batu oleh anak-anak. Nabi sangat sedih. Selain itu beliau juga dalam kondisi kelaparan. Kemudian datanglah Jibril dan menanyakan pada Nabi, jika beliau mengijinkan, Jibril siap menimpakan gunung pada kaum Thaif yang telah durhaka dan menyakiti hati Nabi tersebut.
Apa jawaban Nabi? Beliau berkata jangan. Nabi masih berharap agar ada anak cucu mereka kelak yang akan berbuat baik dan mendapat hidayah.
Salam ‘alaika wahai Nabi yang berhati lembut. Semoga kami bisa mengikuti teladan itu.

Kisah ini mengajarkan pada kita umat Nabi Muhammad untuk tidak mendoakan keburukan bagi orang lain. Sebab selalu akan ada harapan untuk kebaikan. Terlebih lagi apabila ada orang berdoa, malaikat pun ikut mendoakan orang tersebut:  Ya Allah kabulkanlah doa orang ini dan berilah juga padanya sebagaimana yang dia doakan untuk orang lain.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya untuk menjaga anak kita agar selamat duna akhirat?

Pak Quraish menceritakan tentang seorang ibu yang mempunyai anak 12 orang,  dan semuanya menjadi orang yang berhasil. Saat ditanya apa rahasianya, ibu tersebut mengatakan ada dua hal yang selalu dijaganya:
1. Tidak pernah memberi anaknya dengan makanan haram.
2. Apabila anaknya nakal, tidak pernah mengutuk (dasar anak nakal!) tetapi mendoakan dengan kebaikan.

Pernah suatu ketika cucu Nabi yang masih kecil mengambil kurma zakat dan menaruhnya di mulut. Orang yang berzakat tidak mempermasalahkannya dan justru merasa gembira karena bisa menyenangkan cucu Nabi. Tetapi Nabi tidak diam saja. Beliau mengeluarkan kurma tersebut dari mulut cucunya, sebab itu bukan haknya. Pelajaran yang bisa diambil: menjaga anak-anak sedini mungkin dari hal-hal sekecil apapun yang bukan hak nya.

Kalau anda mendengar sesuatu yang buruk dari orang lain, jangan buru-buru menganggapnya buruk. Bisa jadi penyampainya yang salah menyampaikan maksudnya. Jangan lekas menuduh. Cari dulu kemungkinan-kemungkinan baiknya.
Begitu juga saat Islam disalah-pahami. Bisa jadi ini kesalahan kita sebagai Musim bahwa kita belum memberikan perilaku yang baik di masyarakat.


Kesimpulan:

* Manusia tidak boleh putus harapan
* Allah tidak akan membinasakan suatu kaum kecuali sudah benar2 terputus dari jiwanya benih2 kebaikan
* Anak baru sadar nasihat orang tuanya benar ketika dia sampai pada usia orangtuanya
* Dalam hidup carilah kedamaian. Menuju pada Tuhan yang Maha Damai.

Tafsir Al Mishbah [Sabtu, 13 Juli 2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Hari ini terlambat menonton lagi (:p)

Pointers:
* Beragama harus tulus. Tidak ada gunanya beragama karena paksaan.

* Hidayah datangnya dari Allah, tapi Allah tidak akan memberi kecuali seseorang itu mau

* Kepercayaan umat para Nabi terdahulu, salah satunya umat Nabi Nuh: kekuatan alam berasal dari berhala yang mereka sembah. Apabila mereka tidak menyembah berhala tersebut, maka mereka mendapat siksa. Itu sebabnya Nabi Nuh datang berfokus membawa  peringatan, bahwa kekuatan alam yang sebenarnya adalah milik Tuhan. Tuhan lah yang berhak disembah dan Tuhan pula yang sanggup menurunkan siksaan. Apabila mereka tetap menyembah berhala, maka Tuhan dapat menurunkan siksaan terhadap mereka.

* Mengapa pengikut pertama-tama para Nabi kebanyakan adalah orang-orang yang miskin dan terpinggirkan?
Karena para Nabi datang membawa konsep keadilan. Bahwasanya Tuhan memandang manusia sama kedudukannya. Tuhan yang diajarkan dalam agama adalah Tuhannya orang kaya dan orang miskin, bukan cuma orang kaya saja. Sehingga orang-orang kaya yang sombong mengingkari kenyataan bahwa kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang miskin diantara mereka, sedangkan orang-orang miskin menjadi bangkit kesadarannya oleh kebenaran ajaran yang dibawa oleh para Nabi.

* Kepada anak-anak, biasakan untuk mengisahkan sejarah. Sejarah nabi-nabi, pahlawan-pahlawan, dan cerita-cerita baik lainnya. Karena itu sebagai orang tua harus terus belajar. Jangan sampai terlewat satu hari pun tanpa belajar.

* Sabar dalam mengajarkan agama: tidak mempan cara satu, pakai cara yang lain.

Tafsir Al Mishbah [Jumat, 12-07-2013]

(Setiap hari selama Ramadhan di Metro TV, 3.00 WIB)

Hari ini terlambat menyalakan internet dan cuma menonton separuh tayangan. Berikut yang bisa terangkum dari Al-Mishbah Surat Hud ayat (in syaa Allah) 15-24

Salah satu penonton di studio bertanya, “Apa yang menyebabkan amal-amal baik kita menjadi terhapus dan sia-sia?”

Beliau menjawab bahwa ada sejumlah hal yang menyebabkan kita merugi di akhirat nanti. Salah satunya seseorang yang mengiringi sedekahnya dengan kata-kata yang menyakiti hati si penerima. Allah menjadikan amalnya terhapus seperti debu yang menempel di batu, kemudian tersiram hujan deras. Licin tak bersisa.

Berikutnya Pak Quraish menyebutkan hal yang tampaknya remeh tapi sangat mendasar. Apa itu? Tidak ikhlas.
Bagaimana tidak ikhlas bisa menghapus kebaikan? Pak Quraish memberi contoh;

Jika saya bekerja di (katakanlah) Perusahaan A, bisakah saya meminta upah pada Perusahaan B? Begitu juga dengan Allah. Jika seseorang beramal bukan karena Allah, bagaimana bisa ia meminta ganjarannya pada Allah? Wajar kalau kemudian Allah menjadikannya bagai debu yang berterbangan, tak ada artinya. *Makjleb banget.

Pertanyaan berikutnya, dalam satu ayat dinyatakan bahwa mereka yang menghalangi jalan Allah dan menghendaki jalan itu menjadi bengkok adalah orang yang tidak percaya kepada hari akhir. Mengapa disebutkan tidak percaya kepada hari akhir dan bukannya tidak percaya kepada Allah?

Karena, jawab Pak Quraish, percaya atau tidak kepada hari akhir memberi pengaruh yang besar pada kegiatan dan perilaku seseorang saat ini. Bagaimana bisa begitu?

Contohnya kalau kita kenal dengan A dan yakin bahwa besok dia bisa memberi manfaat untuk kita ataupun membuat kita celaka, kira-kira apakah kita akan berlaku baik padanya? Tentu saja.
Namun jika kita kenal A hanya untuk hari ini dan tahu bahwa besok dia pasti pergi tanpa bisa mencelakakan atau memberi manfaat apa-apa, apakah kita akan memperlakukan dia sebaik-baiknya? Kebanyakan kita tidak akan peduli.

Begitu juga manusia.
Manusia yang menghalangi jalan Allah dikatakan tidak percaya hari akhir, karena ia tidak berpikir perbuatannya akan dibalas suatu saat nanti. Tetapi bagi yang percaya hari akhir, maka dia yakin perbuatan buruknya pasti dibalas. Jika tidak dibalas di dunia, dia akan dibalas di akhirat.
Orang yang percaya hari akhir itu memiliki harapan untuk mendapat balasan kebaikan, sekaligus rasa takut dibalas keburukan. Sedangkan orang yang tidak percaya hari akhir berpikir bahwa kehidupan hanya berlangsung sekarang, disini. Inilah yang membedakan perbuatan seseorang yang percaya pada hari akhir dengan yang tidak.

Kenabian Muhammad itu dapat dilihat dari tiga hal:

– kepribadiannya yang mulia

– mujizat terbesar yaitu al Quran

– berita kedatangannya yang tersebut dalam kitab-kitab terdahulu

Tuhan senang kalau kita meminta.
Al Kariim, yang termasuk dalam nama-nama indah Allah, salah satu aspeknya adalah “kecewa” kalau kita tak minta pada Allah. Karena itu mintalah kepadaNya. Banyak-banyakpun tak jadi soal bagi Allah.

Meminta itu terkadang ada yang diucapkan, terkadang hanya perilakunya yang menunjukkan. Analoginya pengemis. Jika ada orang yang bajunya lusuh duduk bersimpuh di trotoar, kita akan memberinya uang meskipun dia tidak meminta secara langsung. Mengapa? Karena sikapnya sudah menunjukkan kalau dia meminta.

Hadits: siapa yang hatinya disibukkan mengingat Allah, maka Allah akan memberikan yang lebih hebat dari yang dia harapkan.

Kesimpulan:

* Silahkan kumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, tapi jangan lengah pada akhirat.

* Seseorang yang beramal tetapi tidak ikhlas, maka perbuatannya sia-sia. Boleh jadi dia dapat kebaikan, tapi hanya di dunia.

* Jangan kira orang yang kafir langsung buruk kehidupannya. Bisa jadi dia kaya raya dan mendapat banyak kenikmatan dunia. Mengapa Tuhan tetap memberinya kesenangan padahal dia durhaka? Pertama karena sifat kasih sayang Allah. Kedua, karena harta dunia itu tidak ada artinya di sisi Allah.